Wednesday, 11 February 2015

Ayahku Pembunuh

Lingkungan sekitar memang sering memunculkan ide yang kadang tak terpikirkan sebelumnya. Ide cerpen lama ini juga muncul dari kejadian di lingkungan sekitar saya beberapa tahun silam. Hanya dituangkan dan dimodifikasi menjadi sebuah cerita, jadi gak sepenuhnya cerita aslinya seperti ini.



AYAHKU PEMBUNUH

Kuperhatikan orang-orang berseliweran lalu-lalang di depan rumah. Pakaian mereka, layaknya pakaian melayat ke rumah duka, lengkap dengan kampia, yang biasa dipakai untuk menaruh beras waktu melayat. Wajah-wajah itu tampak sendu. Entah karena sedih ditinggalkan oleh orang yang meninggal, atau karena iba dan prihatin pada keluarga yang ditinggalkan.
Sedikit sorot ke rumah duka, mereka merupakan keluarga yang bisa dibilang miskin. Pak Man, kepala keluarga, bekerja sebagai tukang sapu di balai, sebutan untuk pasar kecil di daerahku. Sore hari, ia mengangkati sampah-sampah di sekitar komplek untuk mencari tambahan pemasukan. Istrinya, biasa mengupas bawang di pasar. Untuk satu kilo bawang, ia hanya dapat 500 perak.
Hari ini, anak mereka yang ke tiga, meninggal dunia. Demam tinggi yang menyerangnya beberapa hari belakangan berhasil menjadi penyebab. Selain itu, ia juga dikategorikan balita kurang gizi. Saat panas badannya meninggi, disentri juga menyerangnya. Karena tidak ada biaya untuk ke dokter, ia dibiarkan terbaring di rumah yang tak bisa dibilang bersih dan bebas kuman. Tapi itulah takdir. Tak ada yang mampu menghalangi. Ia meninggal sebelum sempat ditolong oleh apa dan siapapun.
Beberapa hari sebelumnya, tetangga Pak Man juga ditinggalkan anak mereka yang berusia 3 tahun karena demam berdarah. Ia juga belum tersentuh oleh tangan dokter. Alasannya pun sama, tidak punya uang untuk biaya berobat. Aku tau cerita ini dari Mak Sani yang sudah 15 tahun bekerja di rumah kami.
“Apa Papa dan Mama tau?” tanyaku pada Mak Sani. Ia mengangguk, “Waktu anak Pak Man sakit, saya minta izin untuk membezuknya. Tapi Bapak dan Ibu bilang, mereka tidak perlu dijenguk. Salah mereka sendiri tidak memikirkan kesejahteraan anak mereka.”
“Papa bilang begitu?”
“Maaf, Non. Bukan maksud saya…”
“Iya, Mak. Saya ngerti.” Aku maklum akan jawaban papa yang sering acuh terhadap sekitarnya. Kami hidup berkecukupan, sementara untuk membantu Pak Man saja papa tak mau. Dulu papa tak begini. Perubahan sikap papa aku rasakan sejak dua tahun belakanga. Satu hal yang sulit aku maklumi, sifat keras kepala papa yang tidak bisa kami cairkan.
***
Ini tahun ke empat aku kuliah. Sebulan lagi aku akan lulus dan diwisuda. Menunggu hari wisuda, aku pulang ke rumah orang tuaku. Memikirkan sebulan tanpa berbuat apa-apa di Jakarta, menguatkan niatku untuk pulang. Papa dan mama menyambutku dengan senang. Mereka telah menyiapkan segala sesuatunya agar aku nyaman berada di rumah.
Sebenarnya aku tak pernah mempermasalahkan kenyamanan di rumah. Tapi mungkin karena pertanyaanku waktu itu membuat mereka berpikiran bahwa aku tak nyaman berada di lingkungan ini.
Kami tinggal di sebuah komplek yang bisa dibilang biasa saja untuk ukuran ayahku yang kepala cabang sebuah BUMN. “Pa, kenapa kita nggak pindah aja ke rumah yang papa beli tahun kemarin? Nggak ada yang menempati kan?” tanyaku ketika itu. Papa diam. Lalu ia membuka mulut,”Apa kamu nggak nyaman tinggal di sini? Yang tinggal di sekitar kita memang nggak selevel sama kita. Tapi kan, papa nggak suruh kamu bergaul dengan mereka.”
Aku sempat termenung mendengar jawaban papa. Alasan itu juga yang membuat papa menyediakan sebuah mobil untukku jika aku pulang. Aku bebas mau kemana saja. Tapi hatiku masih meraba-raba. Rumah yang dibeli papa tahun kemarin terletak di pusat kota dan dekat dari kantor beliau. Lingkungannya sangat kondusif untuk kegiatan apapun. Tetapi papa lebih memilih untuk tinggal di sini. Awalnya aku berpikir, mungkin papa ingin mengajarkan kami hidup sederhana dengan rumah yang biasa di lingkungan yang biasa pula. Tapi setelah mendengar jawaban dan melihat sikap papa yang sangat berbeda, aku nggak yakin akan perkiraanku sendiri.
Aku dan tiga kakakku yang jarang bertemu papa semenjak kami kuliah, membuat kami jadi tak mengerti jalan pikiran papa saat ini. Kak Indra, kakakku yang pertama, kuliah di ITB dan sekarang sudah bekerja di sebuah perusahaan IT terkemuka di Jakarta. Kak Melly, yang ke dua, sudah sepuluh tahun di Malaysia. Sejak tamat SMA hingga meraih gelar doktor, dan sekarang menjadi dosen di almamaternya.. Sedangkan Kak Roby, merintis bisnis sendiri setelah menamatkan kuliahnya di Australia. Modal yang diberikan papa berputar dengan iasg hingga hasilnya sangat memuaskan. Hanya aku yang masih kuliah. Tapi sebentar lagi aku akan menjadi seorang sarjana psikologi seperti yang aku inginkan. Dan papa berniat membiayaiku untuk S2.
“Kenapa melamun?” Mama sudah berada di sampingku. Ia memegang sebuah ias. Aku urung meraih ias itu ketika secara iasg mama memindahkan tangannya ke belakang punggung.
“Lihat korannya donk, Ma.”
“Nggak ada berita yang menarik. Kamu nggak jalan-jalan? Papa kan sudah menyediakan mobil untuk kamu. Sayang kalau nggak dipakai.” Mama mengalihkan perhatianku.
“Memangnya itu mobil siapa, Ma? Kemarin aku nggak liat mobil itu.”
            “Oh iya, Mama lupa kasih tau kamu. Mobil yang biasa kamu pakai kan sering Mama bawa. Jadi Papa beli yang baru untuk kamu. Baru dua minggu kok. Kemaren mobilnya ditaruh di rumah nenek. Garasi kita kan nggak muat untuk tiga mobil. Karena kamu lagi di sini, nanti mobil Mama di luar aja. Kan ada satpam.”
          “Sebenarnya Lia nggak terlalu butuh mobil,” hati-hati aku mengucapkannya. “Kenapa harus beli lagi sih, Ma?”
            “Itu artinya Papa iasg sama kamu.” Sudah kuduga jawaban klise itu akan keluar dari mulut mama. Aku tak tau harus ngomong apa lagi kalau mama  sudah bicara seperti itu. Sepertinya aku ini anak yang tak tau terima kasih kalau masih saja mendebatnya.
            “Mama mandi dulu ya. Mau pergi arisan. Kamu mau ikut?” Aku menggeleng. Mataku kembali menatapi jalanan yang mulai dibasahi rintik hujan. Orang-orang yang lalu lalang memakai iasg dan tampak hati-hati menapaki jalan yang agak becek. Sepertinya tujuan orang-orang hari itu sama, melayat ke rumah Pak Man.
            Aku memutar memori ke masa kecil. Dulu, papa tak begitu sibuk bekerja di kantor. Jabatannya pun masih pegawai biasa. Kami tinggal di rumah kontrakan. Setelah kak Indra SMA, papa mendapat promosi jabatan. Dan saat aku SMA, papa menduduki kursi kepala cabang. Aku cukup salut atas usaha papa. Kalau bukan karena itu, mungkin kami tak ias berkuliah di tempat yang bagus seperti yang aku dan kakak-kakakku rasakan. Tapi sekarang aku jadi rindu papa yang dulu. Papa yang sering tersenyum dengan muka berseri. Tapi sekarang, yang aku temui hanya garis muka kaku yang sepi.
            “Non, tadi Ibu pesan, nanti Non makan duluan aja. Mungkin Ibu telat pulangnya.” Gantian Mak Sani yang mengagetkanku.
            “Mama sering seperti ini ya, Mak?”
            “Maksud Non?” Wajah Mak Sani menyiratkan kebingungan.
            “Sering pergi ke luar sampai malam?” Mak Sani mengangguk, “Iya.” Dan ia kembali ke dapur.
            Dulu, mama tak pernah ke luar sampai malam. Kenapa sekarang semuanya jadi berubah? Apa fasilitas yang ada membuat mama dan papa jadi berubah? Aku meraih gagang telepon dan memencet sederet angka. Saudara perempuan memang selalu jadi tempat berbagi yang menyejukkan hatiku. Tak peduli berapa mahalnya pulsa telepon.
            “Kak,” ujarku ketika terdengar suara Kak Melly di seberang sana.
            “Ada apa, Li? Kenapa nelepon jam segini?”
            “Emang nggak boleh?”
            “Boleh, boleh. Kamu kenapa?”
            “Papa berubah, kak. Mama juga.” Aku menceritakan semuanya pada Kak Melly. Rumah baru, mobil baru, kebiasaan baru mama, sikap papa, semua.
            “Bagus donk Li, kalau kamu dibeliin mobil baru. Itu artinya papa lagi ada rezeki. Dan kamu harus menerimanya dengan senang hati.” Komentar Kak Melly.
            “Ah, Kakak nggak ngerasain sih ada di rumah. Aku tuh ngerasa ada yang beda aja. Ya suasananya, sikap papa mama, pokoknya beda, Kak.”
            “Masa sarjana psikologi, itu aja bingung,” goda Kak Melly. Aku diam. Dan sepertinya Kak Melly tau suasana hatiku.
            “Li, lusa Kakak ke Jakarta, ada urusan ke UI. Kakak ngambil cuti seminggu.” Aku tau maksudnya. Kak Melly akan pulang.
  ***
Sejak aku pulang, baru kali ini makan malam bersama mama dan papa. Aku tak tau apa yang membuat mereka punya waktu malam ini. Aku melirik jam dinding. Mungkin sebentar lagi, batinku. Kak Melly bilang, ia pulang hari ini.
Mendengar bel berbunyi, aku langsung meloncat ke arah pintu. Mama dan papa menatapku aneh.
Begitu membuka pintu, aku kaget sekali. Ternyata bukan Kak Melly. Melainkan Kak Indra dan Kak Roby. Surprise!!
“Kak Melly mana? Pasti Kakak janjian ya?” Aku menerobos tubuh mereka berdua. Tapi aku kecewa. Kak Melly nggak ada. Lama berdiri di depan pintu, akhirnya aku masuk juga. Aku melihat kedua kakakku sedang asyik bercengkrama dengan papa dan mama.
“Kamu kangen banget ya, sama Kak Melly? Sampai-sampai kita berdua dicuekin gini.” Begitu aku kembali ke meja makan, kak Roby menggodaku dengan gaya khasnya colek sana-sini.
“Kak Roby apa-apaan sih?” Aku sewot. Kak Roby malah tertawa lebar.
“Bel,” sorakku mendengar bunyi bel lagi.
“Kayak anak TK baru belajar ngenalin benda aja.” Kali ini Kak Indra yang ngomong.
“Biarin,” aku mencibir, berlari melewati ruang tengah dan membukakan pintu. Tapi aku terpaku begitu tau siapa yang datang. Belum sempat aku mengucapkan sesuatu, Kak Indra sudah berdiri di sampingku. Ia menyuruhku masuk lalu menanyakan maksud kedua orang berseragam polisi tersebut.
Meski penasaran, aku ikut saja apa kata Kak Indra. Aku meraih koran yang terselip di antara majalah-majalah politik yang biasa dibaca papa dan duduk di ruang tengah. Aku membuka halaman-halaman koran itu tak bersemangat. Tapi ketika melihat foto papa terpampang di situ, aku kaget bukan main. Walaupun kecil, gambar di foto itu begitu jelas. Aku membaca baris per baris. Aku shock. Ternyata selama ini, semua yang aku nikmati adalah hasil….. Ya Allah… sepertinya sulit aku percaya. Papa menatapku kemudian meneruskan langkahnya. Sorot mata itu begitu jelas mengiba.
Aku sungguh tak tahan melihatnya. Mataku mengikuti papa. Polisi menggiring papa ke pintu. Bertepatan dengan itu, Kak Melly datang. Aku langsung berlari memeluknya. Kak Melly membelai rambutku.
“Papa membesarkan kita dengan uang itu. Papa telah membunuh kepercayaan kita, Kak. Papa telah membunuh rasa bangga kita. Papa telah membunuh…” Aku berurai air mata.
Papa juga telah membunuh dua balita malang tetangga kita, tambahku dalam hati.
                                                                        Padang, 6 November 2007   23:42

Andai Saja...

Cerpen ini saya tulis tahun 2006. Awalnya sih karena sering denger berita tentang malpraktek. Bukan maksud menyudutkan profesi dokter, tapi pada kenyataannya memang ada dokter yang mungkin tidak memiliki ilmu yang cukup. Saya lebih melihat ke ilmunya dibanding masalah kelalaian. Tapi ini hanya cerita fiktif lho. Hanya sebuah cerpen.

Silahkan dibaca :)

ANDAI SAJA…


Tubuh kurus Pak Sam tampak seperti mengecil. Badannya kaku di ranjang Rumah Sakit. Tulang-tulangnya seperti mencuat keluar dari kulit sawo matangnya. Matanya tertutup rapat. Wajah Pak Sam tampak pucat. Padahal baru empat hari ia berada di Rumah Sakit.
Di tangan Pak Sam tertancap jarum infus. Ia tak sadarkan diri. Koma. Di sekeliling ranjang tempatnya terbaring lemah, istri beserta anak-anaknya tak lepas memandangi. Tapi, mereka semua diam. Sepertinya setiap kepala di ruangan itu sibuk dengan pikiran masing-masing.entah apa yang mereka pikirkan. Tapi, tatapan nanar mereka seolah mampu menjawab tanya yang bergulir.
Fatma, gadis berusia dua belas tahun memegangi tangan Pak Sam. Putri bungsu itu menyentuh jemari tangan ayahnya yang kaku. Tak terasa sebentuk butiran bening jatuh dari sudut matanya. Tapi ia tak terisak. Ditatapnya wajah Pak Sam. Lalu ibunya. Untunglah ibu tak melihatku menangis, batin Fatma. Ia tak mau menambah kesedian ibunya. Sesegera mungkin ia menghapus air matanya.
Sedangkan Maya, si sulung, menyentuh lembut dahi ayahnya. Ia mengusap rambut sang ayah dengan penuh sayang. Matanya berkaca-kaca.
Sepasang mata bergantian menatap mereka satu persatu. Lalu beralih pada Pak Sam. Ah, andai saja waktu itu ayah tidak ke ladang, batinnya. Andai saja ayah meminta pertolongan dokter lain. Andai saja ayah disuntik. Andai saja… entah berapa banyak andai-andai semua orang yang turut prihatin. Namun itu tak akan mengubah segalanya. Buktinya Pak Sam tetap terbaring tak berdaya di Rumah Sakit ini, pikir Hendra.
Walau hatinya menentang andai-andai itu, Hendra tetap saja memikirkannya. Ia jadi teringat lagi senja itu.
Selepas maghrib, ibu dan ayahnya ke rumah Dokter Lin. Karena kaki ayahnya sakit sekali. Katanya ada sesuatu yang menusuk ketika ia mengambil sayur di ladang. Tapi sang ayah juga tak tau apa yang menusuk kakinya.
Hendra berniat mengantarkan Pak Sam ke tempat praktek Dokter Firman, tempat ayahnya biasa berobat. Tapi, Pak Sam bersikeras berobat pada Dokter Lin.
“Sama saja kok, Hen. Dokter Lin itu kan juga seorang dokter,” ujar sang ayah waktu itu.
Walau Hendra diam, tapi ia takut obat yang diberikan Dokter Lin tidak cocok dengan ayahnya. Obat Dokter Lin berdosis tinggi. Dulu Pak Sam pernah minta obat sakit kepala pada Dokter Lin. Setelah minum obat itu, bukannya sembuh tapi muka Pak Sam malah membengkak. Ternyata obat yang diberikan Dokter Lin dosisnya tinggi. Hendra takut hal itu terulang lagi. Tapi kalau Pak Sam sudah memutuskan sesuatu, Hendra tak bisa berbuat apa-apa lagi. Ayahnya adalah seorang yang keras. Tak bisa disanggah.
Sampai dua hari Pak Sam minum obat dari Dokter Lin, Hendra tak bertanya apa-apa. Karena Pak Sam tampak sehat-sehat saja. Di hari ke tiga, tubuh Pak Sam kejang-kejang. Keluarganya segera melarikannya ke Rumah Sakit. Sejak saat itu, Pak Sam tak sadarkan diri. Sampai saat ini.
Pikiran Hendra menerawang lagi pada andai-andainya. Ah, andai saja… Hendra menatap wajah beku di depannya.
☺☺☺
“Sudah lihat Pak Sam belum, Bu?” tanya Vina pada ibunya.
“Sudah.”
“Bagaimana perkembangannya, Bu?” Vina duduk di samping ibunya yang sedang menjahit. “Pak Sam masih belum sadar,” jawab sang ibu.
“Sebenarnya Pak Sam kenapa sih, Bu?” Vina masih penasaran.
“Kata dokter, Pak Sam terkena tetanus.” Vina menatap ibunya tak mengerti.
“Bukankah waktu itu Pak Sam sudah berobat pada Dokter Lin?”
“Iya, tapi Pak Sam tidak disuntik anti tetanus.”
“Lho, kenapa bisa seperti itu?” Vina tampak heran.
“Yang ibu dengar sih, kata orang-orang Pak Sam takut disuntik.”
“Masa sih, Bu, Zaman sudah canggih seperti ini masih ada saja orang yang takut disuntik?”
“Huss, kamu nggak boleh ngomong seperti itu.” Vina diam. Ia mengerti maksud ibunya.
☺☺☺
Tubuh kaku Pak Sam tetap tak bergerak. Orang-orang di sekelilingnya tampak cemas. Maya membuka Al Qur’an dan mulai membaca Yasin.  Deg! Jantung Hendra berdetak kencang. Pikirannya berkecamuk mendengar Yasin yang dibacakan Maya. Apakah ayah sudah tak bisa tertolong lagi? Tiap mendengar Yasin ia selalu teringat akan kematian. Hendra tak tahan lagi. Ia keluar dari ruangan itu.
Langkah Hendra terhenti. Ia mendengar suara-suara yang menyebut-nyebut nama ayahnya. Ia berdiri di sudut tembok dekat bangku yang diduduki dua wanita paro baya itu. Mereka tak menyadari kalau ada seseorang yang mendengarkan pembicaraan mereka.
“Iya, Bu Nar bilang, Pak Sam sudah minta disuntik anti tetanus. Tapi Dokter Lin bilang, dalam obat yang diberikannya sudah terkandung anti tetanus. Bu Nar tak mau menceritakan hal ini pada siapa-siapa. Hanya saya dan Bu Ratna yang tau. Bu Nar juga tak mau menuntut atau bertengkar.”
Jantung Hendra berdetak makin kencang. Mengapa Ibu tak pernah bilang? Mengapa? Dada Hendra bergemuruh hebat. Mengapa ia tak pernah mengetahui cerita itu? Mengapa Ibu menyembunyikannya? Hendra tau jawabannya. Ibu tadi benar. Pastilah Ibu tak mau terjadi pertengkaran. Apalagi kami dan Dokter Lin bertetangga, batinnya.
Hendra terduduk lemas. Pikirannya kembali menerawang. Mengapa ayah menolak diantarkan ke tempat praktetk Dokter Firman? Atau, mengapa tak bersikeras saja minta disuntik? Kalau ayah bersikeras pastilah Dokter Lin akan menyuntiknya.
Hendra berdiri dan melangkah menuju kamar perawatan ayahnya. Ia membuka pintu putih itu lambat-lambat. Takut mengagetkan yang lain. Perlahan pintu itu bergeser.
Begitu pintu terbuka, Hendra malah terpaku menyaksikan apa yang terjadi. Fatma, Maya, dan Ibu menangis. Apakah ayah… Hendra bergerak cepat menuju mereka. Dilihatnya mata sang ayah telah terbuka. Ayahnya telah sadar. Ternyata Fatma, Maya, dan ibunya menangis bahagia karena Pak Sam telah sadar.
Pak Sam menatap istri dan anak-anaknya bergantian. “Saya mau disuntik,” ujarnya. Segurat senyum menghiasi wajahnya.
“Nanti akan saya sampaikan pada dokter.” Hendra memegang tangan ayahnya. Semua yang ada di ruangan itu tersenyum. Senang. Semua perhatian tertuju pada Pak Sam.
Tiba-tiba mata Pak Sam tertutup. Tangannya terkulai lemah. Tubuhnya tiba-tiba kaku. Tak ada yang bergerak. Hendra menyentuh pergelangan tangan sang ayah. Tak ada denyut. Semua wajah beku menatap Pak Sam. Tak lama berselang suara tangis pecah di ruangan itu. Pak Sam telah pergi untuk selamanya.
“Tak mungkin. Ini tak mungkin terjadi.” Hendra histeris. Ia tak bisa menahan perasaannya.
“Aku tak bisa terima. Ini pasti kesalahan Dokter Lin. Aku benci dia. Ini kesalahannya.” Hendra tak mampu menahan emosi. Sementara semua mata menatapnya tak mengerti. Dokter Lin? Apa hubungannya dengan Dokter Lin? Mereka bertanya-tanya.
“Kalau bukan karena dia tak mungkin Ayah meninggal secepat ini. Kalau dia mau menyuntik ayah…”
“Sudahlah, Nak.” Bu Nar memeluk Hendra. “Tak ada yang salah. Juga Dokter Lin. Ini takdir. Dokter Lin hanyalah seorang dokter yang tugasnya hanya mengobati sesuai ketentuannya.” Bu Nar mengusap rambut Hendra. Ah, Bu Nar memang orang yang sabar, batin Vina yang menyaksikan semua itu.
“Seandainya waktu itu ayah tidak ke Dokter Lin…” Hendra menatap ibunya.
“Tak baik berandai-andai seperti itu. Ini kehendak Tuhan. Semua sudah diatur.”
Ya, batin dua wanita yang tadi baru saja membicarakan hal ini. Kekuasaan Tuhan telah mengalahkan ilmu seorang dokter. Tak ada seorang pun yang mampu menandingiNya.


Padang, 19 Februari 2006.

Tuesday, 10 February 2015

Ada Apa Dengan Revi

Apa yang terjadi di sekeliling kita kadang memang tak luput dari perhatian. Karena memang kita hidup dalam lingkungan sosial yang harus memerhatikan satu sama lain. Begitupun cerpen ini, ditulis karena sesuatu yang terjadi di sekitar saya. Tapi tetap saja ini hanya cerpen, yang intinya tetap saja sebuah cerita. Jangan dijadikan bahan untuk diperdebatkan yaa.. hehhe..

Ini hanya tulisan remaja yang baru melihat dunia.

Selamat membaca yaah :)


ADA APA DENGAN REVI

“Udah oke belum,Ta ?”
“Udah. Oke banget malah,” Revi tersenyum manis mendengar komentar Ata.
“Emang mau kemana sih,Re?” tanya Ata lagi.
“Ada aja,” jawab Revi menirukan sebuah iklan di televisi. Ata memasang tampang kesalnya. Bikin penasaran aja ni orang, batinnya.
“Gue berangkat dulu ya…” Revi berjalan menuju pintu kamar dengan wajah innocent-nya. Ata cuma bisa memperhatikan Revi dari tempat tidurnya.
 Dari atas sampai bawah, dandanan Revi beda banget dari biasanya. Revi yang tiap harinya sporty banget, sekarang malah feminin abis. Gimana nggak bikin penasaran. Rambut sebahu yang biasa diikat, sekarang dilepas plus sebuah jepitan imut bertengger di kepalanya. Kaos oblong yang biasa nempel di badan, sekarang entah disembunyiin dimana. Yang ada malah kemeja cantik yang tentu aja rapi untuk ukuran Revi. Orang-orang yang kenal Revi pasti bingung kalau liat dia saat ini. Coba aja perhatiin, Revi yang hobi banget pakai celana jeans panjang, hari ini pakai rok. Selutut lagi. Mau tau apa yang lebih ngagetin? Sendal. Ya, Revi pake high heels. Ditambah lagi dengan satu tas kecil di tangan. Seratus delapan puluh derajat berubah.
Ata bingung juga memperhatikan ni anak. Mau nanya, ntar takutnya Revi malah jadi nggak pede ama penampilannya. Jarang-jarang kan dia dandan kayak gini. Tapi Ata masih tetap penasaran. Apa sih yang bisa bikin Revi berubah?
Sebuah tanda tanya  besar bercokol di kepala Ata.
***
Hari Minggu yang menyedihkan. Ata duduk di bangku teras rumah kost. Gini nih kalo hari libur nggak ada kegiatan. Alternatif yang segera muncul pasti ngelamun di teras depan.
“Ta, gue pergi dulu ya,” Revi muncul dengan gaya ala ceweknya.
“Ta, gue pergi dulu,” ulang Revi tepat di telinga Ata.
“Eh…oh…Lo apaan sih? Emang gue budeg apa?” Ata yang lagi ngelamun jadi kaget.
“Lo sih, ngelamun aja. Mikirin apaan sih? Segitunya, sampe nggak denger suara gue.”
“Biasalah…he…he….”
“Udah ah, gue berangkat dulu,” Revi meninggalkan Ata yang masih belum sadar betul dari lamunannya.
“Re, bawain oleh-oleh ya…” sorak Ata asal ketika Revi sampai dipagar.
“Emang lo kira gue mo kemana?”
“Ya, kali aja lo niat beliin gue sesuatu.”
“Dasar suka yang gratisan lo ya….”
“He…he…tau aja lo,” Ata cengengesan.
“Titi DiJe ya…” tambah Ata lagi.
“Titi DiJe lagi di rumahnya tuh. Lo liat aja kesana…” jawab Revi asal sambil berlalu dari pandangan Ata.
Ata kembali pada ritualnya. He…he…Sok keren banget ya, kosakatanya. Bilang aja kembali ke lamunannya. Malah jadi pengen ketawa nih. Terlalu puitis sih. Itu pantesnya buat judul sinetron aja. Ata jadi senyam-senyum sendiri. Kalau ada orang yang lewat dan merhatiin Ata pasti mereka bilang gini, “Kasian ya, tu orang. Masih muda udah gila.”
Akhirnya dengan kesadaran yang penuh Ata beranjak ke dalam. Bukan karena takut diliatin orang kalau dia lagi senyum-seyum sendiri. Tapi masalahnya cacing-cacing di perut Ata pada keroyokan minta dikasih subsidi.
***
“Ntar lo mau pergi lagi ya Re?”
“Iya. Emang kenapa?”
“Ada acara apa sih? Gue heran aja sama dandanan lo yang feminin abis “
“Ada deh…” Revi masih aja nggak serius jawabnya. Padahal Ata udah pasang tampang paling serius yang dia punya.
“Huh…gitu lo ya…pake rahasia-rahasiaan segala “
“Biarin…” Revi senang banget lihat tampang Ata yang begini. Mata tajam dengan mulut sedikit maju.
“Gue juga mo pergi kok. Lari pagi.”
“Hah?? Sejak kapan lo rela bangun pagi-pagi cuma buat olah raga? Lari pagi lagi. Biasanya kan lo nggak pernah mau gue ajakin lari pagi.”
“Pengen aja,” Ata malah bikin Revi tambah penasaran.
“Lo mau lari pagi kemana? Sama siapa? Atau ada sesuatu yang lo cari ya sambil lari pagi? Ada yang lo incar misalnya,” Revi nafsu banget nanyanya. Apalagi melihat Ata yang udah mengenakan kaos, celana, plus sepatu olah raga.
“Lo kalo nanya satu-satu donk…” Ata geli melihat ekspresi Revi saat itu. “Lo pasti penasaran ya…he..he..” tambahnya lagi.
“Pede banget sih lo bisa bikin gue penasaran,” Revi sewot.
“Hahaha…santai aja lagi. Jangan sewot gitu. Just kidding. Gue lari pagi cuma pengen cari suasana baru aja kok. Daripada bengong di kamar. Kali aja ntar ada pemandangan indah,” Ata membuat tanda kutip dengan dua jari-jari tangannya di kiri kanan kepala waktu menyebut kata pemandangan.
“Dasar ganjen. Emang lo mau kemana sih?”
“Ke GOR.”
“Sama siapa?”
“Sama Tiwi.”
“Anak baru yang di sebelah ya? Yang dari Jawa itu?”
“Iya. Sekalian nunjukin daerah GOR ke dia.” Ata memperbaiki ikatan tali sepatunya.
“Gue caw dulu ya…” Ata melambaikan tangannya ke Revi begitu melihat Tiwi sudah berada di pintu kamarnya.
***
“Ealah Mbak… Kok malah duduk tho, Mbak” tanya Tiwi dengan logat Jawa yang kental banget. Hampir aja tawa Ata meledak. Lucu banget kedengarannya.
“Cape, Wi.”
“Baru seiki kok udah cape tho. Makanya mbesok-mbesok tuh kalau pagi Mbak minum jamu dulu. Kalau Mbak mau aku bisa bikinin buat Mbak.”
“Makasih deh.”
“Yo wis. Kita duduk dulu.”
“Iki opo tho, Mbak?” Tiwi menunjuk sebuah stadion di belakang mereka.
“Itu  stadion sepak bola, Wi.”
“Ooo…tak kirain tempat pacuan kuda atau opo gitu lho…” Ata cuma tersenyum tipis.
“Orang-orang itu ngapain Mbak?”
“Senam. Ikut aja kalo kamu mau. Barisan belakang masih kosong tuh.”
“Liat itu aku jadi ingat kampung.”
“Ingat kampung?” Ata heran. Apa hubungannya senam massal sama kampung?
“Waktu tujuh belasan, aku nekad ikut lomba joged. Yo, aku goyang wae. Ora ono malu-malu. Kayak ngono lho, Mbak.” Tiwi menunjuk instruktur senam aerobik yang lagi goyang-goyang pinggul kayak goyang ngebornya Inul. Mana medoknya jelas banget lagi.
“Tapi nggak menang. Kata juri, aku kurang hot goyange,” lanjutnya.
Ata tertawa juga mendengar cerita Tiwi. Apalagi kalau denger bahasanya. Bajadul, kata Revi. Alias bahasa jaman dulu.
Ata mengajak Tiwi jalan lagi. Tiwi orangnya ceriwis juga. Apa yang dilihatnya pasti ditanyain.
Mereka sampai di halte. Ata langsung menghempaskan pantatnya di bangku halte. Tiwi memandangi bangunan di belakang mereka. Dilihat dari luarnya, kayaknya bangunan itu udah lama banget berdirinya. Bangunan itu memanjang ke belakang. Di bagian depannya tersusun bangku-bangku kayu dengan rapinya. Bangku-bangku itu terlindungi oleh sebuah canopy yang melengkung ke sisi kiri-kanannya.
Pandangan Tiwi beralih ke atas bangunan itu. Matanya sedikit melebar. Persisnya membulat. Tampak sekali ekspresi heran di wajahnya. Tepat di tengah atap bangunan itu terdapat tiang yang di ujungnya tampak ayam tiruan yang terbuat dari aluminium. Di sisi kanan bangunan itu, tepatnya di parkiran tampak seorang pria turun dari sebuah mobil. Tak lama dari pintu yang satunya keluar pula seorang perempuan muda. Tiwi mengucek matanya. Sepertinya aku kenal deh, sama tu cewek, batinnya.
Mata Tiwi beralih ke papan putih yang bertuliskan nama bangunan itu. Seketika matanya terbelalak dan mulutnya menganga.
“Kita naik bis yang ini aja,” Ata menarik Tiwi menaiki bis yang berhenti di depan mereka.
***
Angin bertiup kencang sekali malam ini. Suara angin dan atap seng yang menghempas membangunkan Ata dari lelapnya. Cahaya lampu teras remang-remang memasuki kamarnya. Klek. Tiba-tiba cahaya itu hilang. Gelap. Mati lampu. Dingin merayapi tubuh Ata. Dia segera menarik selimutnya. Suara angin kian kencang. Samar-samar Ata mendengar suara isak tangis seseorang. Bulu kuduk Ata berdiri. Siapa yang nangis malam-malam begini, batinnya.
Ata membalikkan tubuhnya ke arah tempat tidur Revi yang cuma berjarak satu meter dari tempat tidurnya. Tapi suara itu terdengar lebih keras dari yang didengarnya tadi. Ops, Ata kaget melihat apa yang terjadi. Dia berusaha memejamkan matanya walau terasa sulit sekali.
***
“Ada yang nyariin lo tuh.”
“Siapa?” tanya Revi.
“Cowok, badannya gede, kepalanya botak, kulitnya item lagi.”
“Pasti Bang Fredy.”
“Mana gue tau. Lo kan nggak pernah ngenalin ke gue. Gacoan baru ya?”
“Hehe..kapan-kapan deh, gue kenalin ke lo. Gue berangkat dulu ya…”
***
Ata memperhatikan susunan bukunya. Berantakan banget. Dibanding susunan buku Revi jelas sangat berbeda. Ata jadi semangat buat nyusun buku-bukunya. Mumpung nggak ada jadwal kuliah.
“Hhh… beres,” ucap Ata dalam hati.
Ata mengalihkan pandangannya ke rak buku Revi. Tampak kaset yang tersusun rapi pada rak bagian atas. Ata beranjak menuju susunan kaset-kaset itu. Kali aja ada yang bagus, batinnya.
“Assalammualaikum….” kepala seseorang muncul di pintu. Ata menoleh. Ternyata si Mujadul alias muka jaman dulu. Siapa lagi kalau bukan Tiwi. Ini julukan Revi yang bikin nih. Jahat ya. Masa Tiwi dibilang mujadul. Muka Jawa sih iya…Hehe..sama aja nih jahatnya.
“Ono opo tho, Mbak? Kok senyum sendiri?”
“Nggak ada apa-apa. Cuma senam wajah.”
“Senam wajah? Baru ya? Siapa yang ngajarin, Mbak?”
Aduh, ni anak lugu, tulalit, telmi, ato gimana sih? Nggak tau orang becanda apa.
“Kapan-kapan deh aku kasih tau.”
Ata meraih kaset yang ada di tengah susunan itu. Dia membaca tulisan yang ada di cover kaset .Keningnya berkerut. Ata meletakkan kaset itu kembali pada tempatnya. Pandangannya beralih pada buku-buku. Tampak beberapa novel. Dan itu… Ata meraih sebuah buku kecil yang bersampul hijau tua. Tebal banget. Apa sih, batin Ata. Dia segera membaca judulnya. Wajahnya berubah seketika.
“Ono opo tho, Mbak?” suara Tiwi mengagetkan Ata.
“Nggak ada apa-apa kok.”
“Kok muka Mbak pucat gitu? Mbak sakit ya?”
“Nggak…. Nggak ada apa-apa kok,” Ata berbohong.
“Mbak, waktu kita nunggu bis di halte kemaren aku lihat Mbak Re.”
“Revi?”
“Iya. Mbak liat nggak?” Ata menggeleng.
“Aku liat Mbak Re di bangunan yang di belakang halte.”
“Hah?? Sama siapa?”
“Sama cowok. Mereka turun dari mobil warna silver yang diparkir disitu.”
“Gimana ciri-ciri tu cowok?”
“Kepalane kayak professor gitu, Mbak. Orangnya gemuk. Item.”
Itu kan yang kemaren nyari Revi, batin Ata.
***
Malam ini penyakit sulit terlelap melanda Ata lagi. Sejak kapan gue menderita insomnia? Ata bertanya-tanya tak tentu pada diri sendiri. Terdengar suara hujan turun dengan derasnya. Disusul badai yang menimbulkan bunyi-bunyian di atap Wisma Melati. Samar-samar terdengar lagi suara tangis yang tertahan. Ata membalikkan badan. Benar. Revi menangis lagi. Kenapa?
Ata tak berani mendekatinya. Takut Revi nggak mau diganggu. Dengan rasa penasaran yang menjadi, Ata berusaha memejamkan mata. Meskipun sulit untuk bersikap acuh, Ata berusaha untuk tidak menanyakan hal-hal yang menurutnya adalah pribadi sekali bagi Revi.
***
Ata membuka pintu kamar dengan semangat. Rasa kantuk yang amat sangat telah membawa pikirannya pada kasur empuk di kamarnya.
“Hah??” Pupil mata Ata melebar seketika. Rasa kantuk yang menghantui hilang entah kemana. Apa yang terjadi? Perampokan? Nggak mungkin. Beribu tanya muncul di kepala Ata. Matanya memandang berkeliling. Barang-barangnya lengkap. Tak ada satupun yang hilang. Hanya barang-barang Revi yang tak tampak satu pun.
“Ta, ini ada titipan dari Revi,” sebuah suara mengagetkan Ata.
“Emangnya Revi kemana, Bu?”
“Pindah.” Ata jadi makin bingung. Dia meraih amplop yang diberikan ibu kos.
“Kamu tau kan orang-orang yang tinggal disini mayoritas muslim? Kalau Revi masih tinggal disini mereka takut anak-anak mereka terpengaruh,” ucap Bu Mer sebelum meninggalkan kamar Ata.
Ata makin nggak ngerti apa yang sebenarnya terjadi. Dia segera membuka amplop putih itu.

Dear Ata,
Sebelumnya gue mau minta maaf  sama lo kalo selama ini mungkin gue nyusahin lo atau gue sering bikin lo kesal. Gue tau lo teman yang baik. Lo sering ngigetin gue kalo gue salah. Tapi untuk kali ini, gue merasa inilah jalan gue. Sejak beberapa bulan yang lalu, gue bukan muslim lagi. Gue tau lo pasti kaget denger ini semua. Tapi ini gue lakuin demi kelangsungan hidup gue. Mungkin lo masih bingung. Gini Ta, Sejak beberapa bulan yang lalu, Papa nggak ngirimin uang lagi. Usaha Papa bangkrut. Otomatis gue harus berhenti kuliah. Padahal cuma tinggal satu semester lagi. Pada saat yang sama gue ketemu lagi sama senior gue di SMA dulu. Dan dia nawarin bantuan. Nggak ada pilihan lain. Gue harus nyelesein kuliah gue. Gue terima tawaran Bang Fredy.
Sejak bantuannya mengalir, gue makin deket sama dia. Dia minta temenin kemana aja, pasti gue temenin. Karena gue merasa sangat berhutang budi. Dan hari itu, hari Minggu pertama gue nemenin dia ke gereja. Cuma nemenin. Tapi lama-kelamaan gue makin sering kesitu. Dan lo pasti tau apa yang terjadi selanjutnya. Gue merasa di situlah jalan gue. Itu kehendak gue. Semua perubahan yang gue lakukan adalah keinginan Bang Fredy. Tapi gue nggak ngerasa terpaksa ngelakuinnya. Gue harap lo bisa ngerti gue.
Ata memutar kembali semua peristiwa yang terekam di kepalanya beberapa hari yang lalu. Bagaimana dia menemukan kaset rohani Kristen dan injil, dan Tiwi yang melihat Revi di gereja belakang halte.
                                                                                    Padang, 16 Oktober 2005


Aku Nggak Akan Jadi Shakespeare

Menulis cerpen remaja itu emang hal yang menggoda. Banyak hal yang bisa menjadi inspirasi. Banyak ide yang bisa dituangkan berkaitan dengan dunia remaja. Tentu banyak juga cerita cinta ABG yang bisa dijadikan bahan yang bagus untuk diulas.

Cerpen ini saya tulis tahun 2006, sebelum munculnya blackberry, masih zaman SMS, saat SNMPTN masih dengan nama SPMB, saat semangat menulis itu masih membara (cailaaah.. alay yah). "Aku Nggak Akan Jadi Shakespeare" pernah dimuat di harian Umum Singgalang tahun 2007 di halaman cerpen remaja Minggu.

Agak malu juga publish tulisan cengeng remaja ini. Tapi ini adalah bagian dari karya yang pernah saya tulis. 

Silahkan dibaca :)


AKU NGGAK AKAN JADI SHAKESPEARE
Oleh : Rica Fulwayani

Vian membuka amplop di tangannya. Di sampingnya, Rama melakukan hal yang sama. Beberapa detik kemudian mereka saling pandang dengan senyum mengukir bibir. Vian memperlihatkan kertas yang tadi dikeluarkannya dari amplop.
”Aku lulus,” ujarnya sangat ceria.
”Aku juga,” balas Rama.
”Kita lulus,” ujar mereka bersamaan. Mereka melonjak kegirangan.
”Kamu mo ngelanjutin kemana?” tanya Vian pada Rama. Yang ditanya hanya tersenyum simpul.
”Kamu curang. Ayo, bilang. Kamu janji mo bilang kalo kita udah lulus. Sekarang, ayo bilang.”
”Ada deh.”
”Kamu curang. Aku benci sama kamu,” Vian membuang muka.
”Vian,” goda Rama.
Vian tak menyahut. Mulutnya meruncing.
”Kamu cakep, deh.”
”Norak!”
”Norak norak gini kan pacar kamu juga.”
”Nggak.”
”Lho, kok nggak? Aku kan emang cowok kamu.”
”Kalo kamu mau bilang.”
”Kalo nggak?”
”Kita putus.”
”Kalo aku nggak mau?”
”Harus.”
”Ya udah deh. Aku akan bilang. Tapi kamu harus senyum dulu.”
”Nggak mau.”
Rama berpindah posisi ke depan Vian. Tangannya meraih tangan Vian.
”Iya, deh. Aku kalah. Aku... aku mau kuliah di Paris.”
”Apa? Paris?” Vian melongo.
”Iya. Aku mo ngambil sastra.”
Vian masih tak mampu berkata. Ia masih tak percaya pada ucapan Rama barusan. Ia menatap wajah Rama lekat-lekat. Mencari manik hitam matanya. Vian seolah meminta kepastian lagi. Ia tak yakin Rama akan kuliah di Paris. Rama akan meninggalkannya begitu jauh.
Rama menggoyang-goyang tangannya di depan mata Vian.
”Kamu kenapa sih, Vi?”
”Kamu membuat keputusan yang nggak pernah aku duga dan kamu masih tanya aku kenapa?”
”Vi, kamu tau kan, dari dulu aku suka sekali sama dunia sastra. Dan...”
”Dan kamu lebih tertarik Chateaubriand daripada aku. Kamu pengagum fanatik karya-karya Shakespeare. Itu kan, yang membuat kamu berkeinginan untuk kuliah di Paris?”
”Kok kamu sewot gitu sih, Vi? Kesempatan ini nggak datang dua kali, Vi. Belum tentu tahun depan Papa bakal ngizinin aku kuliah di Paris. Belum tentu juga Papa punya dana di waktu yang lain seandainya aku menunda kesempatan ini.”
Vian tak bergeming. Wajahnya tertunduk.
”Aku mohon kamu bisa ngerti keinginanku. Toh, kita masih bisa telepon-teleponan, kirim-kiriman email. Aku masih bisa pulang tiap tahunnya.”
Vian tetap diam. Otaknya berputar.
”Rama benar. Aku terlalu egois untuk melarangnya pergi,” batin Vian.
”Kamu tenang aja. Aku nggak bakal ngelupain kamu.”
Rama menyentuh dagu Vian lembut. Mengangkatnya hingga tatapan mereka beradu.
”Kamu percaya kan sama aku?” Rama tak berkedip.
Saatnya aku mengerti. Vian mengangguk di hadapan Rama. Mereka tersenyum.
”Kamu boleh ke Paris asalkan tiap hari kirim email ke aku.”
”Oke, Bos.”
☺☺☺
Rama sibuk mengurus surat-surat untuk keberangkatannya ke Paris. Mempersiapkan semua berkas-berkas nilainya dan semua perizinan. Sesekali dia menyempatkan diri menelepon Vian atau paling tidak SMS sekedar mengabari dia dimana. Tapi beberapa hari belakangan ini nama Rama tak muncul di layar handphone Vian.vian mencoba menghubunginya, tapi handphone Rama nggak aktif.
Say, kamu dimana?
Vian mengirim SMS pada Rama. Tapi statusnya pending. Vian jadi bingung. Beberapa jam emudian ia mengirim SMS lagi.
Jadi nggak, ke Parisnya?
Namun statusnya juga pending. Vian makin bingung. Di tengah kegelisahan itu akhirnya ia tertidur. Tapi tak berapa lama handphone-nya berbunyi. Ia segera meraih benda mungil itu. Ternyata hanya laporan delivered. Tapi laporan itu membuat Vian berharap Rama membalas SMS-nya.
Vian menunggu dan terus menunggu balasan dari Rama. Irama jantungnya sudah tak beraturan. Tapi SMS Rama tak kunjung datang. Vian berinisiatif mengirim SMS lagi.
Say, apa aku ada salah sm kamu? Knp SMS aku gak dibalas?
Tak ada balasan. Vian coba menghubungi, nggak diangkat-angkat. Tiap hari Vian mengirim SMS pada Rama. Tetap tak dibalas. Akhirnya Vian bosan dan berusaha menghilangkan pikirannya pada Rama walaupun itu sulit. Vian tak ingin ia gagal dalam SPMB karena terus memikirkan Rama. Ia harus fokus pada pelajarannya.
Sementara di tempat lain, Rama menatap layar handphone-nya. Ia membaca lagi beberapa SMS yang masuk beberapa hari ini. Beberapa SMS yang tak pernah dibalasnya. SMS dari nomor yang sama.
Rama membuka SMS yang terakhir.
Kamu tega mempermainkan perasaanku. Mungkin ini yang terbaik menurut kamu. Aku akan melupakanmu.
Ya, aku memang tega, Vi. Hati kecil Rama ingin rasanya membalas semua itu.
Rama kembali pada sikapnya beberapa hari belakangan ini. Ia tak menghubungi Vian dan tak pernah mengangkat teleponnya. Bahkan membalas SMS pun tidak. Itu semua hanya untuk melupakan Vian. Rasanya ia tak sanggup harus berjauhan dengan Vian. Mulai dari sekarang ia harus bisa menjauh dari semua yang berkaitan dengan Vian. Karena dia sadar, tidak mudah untuknya hidup jauh dari Vian. Banyak hal yang selama ini selalu dilakukannya bareng Vian. Tak mudah untuk merubahnya.
Aku harus membiasakan diri dari sekarang, batinnya.
Maafin aku, Vi. Mungkin kamu nggak akan ngerti dengan pola pikirku ini. Tapi ini harus aku lakukan, Vi. Maafin aku.
Seperti halnya Rama, Vian juga tak mampu menghapus Rama dari pikirannya. Walaupun ia sakit hati atas tindakan Rama yang menghilang tanpa kabar, Vian tetap berharap Rama akan menghubunginya.
Kamu jahat, Rama. Jahat.
☺☺☺
”Kamu yakin mau kuliah di Paris? Beberapa hari ini Papa lihat kamu nggak semangat ngurus surat-suratnya. Kamu masih punya waktu dua hari lagi untuk berpikir.”
Rama hanya diam. Ia tak bergeming sedikitpun. Papanya jadi makin penasaran melihat Rama diam dan malah sibuk memainkan roti di depannya.
”Ram, kamu sudah memikirkan semuanya kan? Paris itu jauh. Kamu harus siap dengan segala konsekwensinya. Papa mendukung keinginan kamu untuk menjadi sastrawan dunia. Papa setuju seratus persen. Tapi, tiap pilihan itu ada harganya, Ram.”
Rama merenungkan kata-kata papanya. Tiap pilihan itu ada harganya. Ya, jika ia memilih ke Paris, ia harus membayar dengan cintanya. Jika memilih tetap di Indonesia, ia harus melupakan impiannya.
Rama meraih telepon dan memencet beberapa angka. Terdengar nada tersambung. Tak lama telepon diangkat.
”Non Vian di Rumah Sakit, Den.”
”Rumah Sakit? Vian kenapa, Bi?”
”Beberapa hari ini dia nggak mau makan. Dia mengurung diri di kamar. Dia sering ngigau. Dan Bibi sering dengar Non Vian nangis malam-malam. Akhirnya kemaren dia pingsan. Kata dokter harus diopname.”
”Rumah Sakit mana, Bi?”
Medistra.”
”Makasih ya, Bi.”
Rama menutup telepon dan bergegas meraih kunci motornya. Ia berharap Vian masih mau memaafkannya. Semoga saja masih ada tempat untuknya di hati Vian.
Rama membuka pintu ruangan tempat Vian dirawat. Vian sedang tidur. Badannya tampak kurus. Jarum infus menancap di tangannya.
”Rama.” sapaan mama Vian mengalihkan pandangan Rama.
”Vian sakit apa, Tante?”
”Cuma kelelahan.”
Syukurlah, batin Rama. Ia sudah berpikir yang bukan-bukan. Mama Vian keluar dan meninggalkan mereka berdua. Rama tak mau membangunkan Vian walaupun perasaan rindunya memuncak. Rama menyentuh tangan Vian lembut.
”Maafin aku, Vi. Aku nggak bermaksud membuat kamu begini. Ternyata aku memang nggak bisa jauh dari kamu. Aku sudah membuat pilihan dan aku harus membayarnya dengan impianku. Di negeri sendiri pun aku masih bisa menjadi sastrawan. Aku nggak akan ke Paris.” Rama merebahkan kepalanya di sisi Vian.
”Aku akan kuliah di sini. Dan aku nggak akan pernah membayarnya dengan cinta. Kamu harus yakin itu, Vi.” tambah Rama.
Tangan Vian bergerak.
”Ram, aku dengar semuanya. Aku tau kamu nggak akan ninggalin aku.”
Rama mengangguk.
”Gimana dengan Paris?”
Rama menggeleng.
”Kalo Shakespeare?”
”Aku nggak akan jadi Shakespeare, Vi. Aku akan jadi diri sendiri di negeri sendiri.
Vian mengelus kepala Rama. Sebentuk kristal meluncur dari sudut matanya.
”Aku sayang kamu,” ujar Rama.
”Aku juga.”
Rama memeluk Vian erat.

                     Padang, 19 Agustus 2006  01:48

Penari

Ini bukan cerpen baru. Cerpen ini saya tulis tahun 2005. Wow banget yaah. Sepuluh tahun yang lalu. Waktu masih seneng-senengnya nulis, masih seneng-senengnya ngumpul sama penulis, masih semangat-semangatnya sharing soal dunia menulis dengan mentor hebat saya, Om Yusrizal KW dan Kak Maya Lestari GF yang selalu menyemangati. Tapi apa daya, bakat tinggallah bakat, semangat memudar dan lama kelamaan hanya tinggal keinginan tanpa usaha. Maafkan ika ya Om KW, udah disupport tapi malah patah semangat. Hehe.. curcol lagi. Saya akan posting cerpen lama saya satu persatu mulai hari ini. Dan mudah-mudahan berlanjut dengan cerpen baru nantinya. Amiiin.

Cerpen ini diberi judul PENARI karena dulunya saya suka dunia menari dan pernah mengenal beberapa pelatih tari yang sedikit banyak menginspirasi saya. Beberapa bagian cerita dalam cerpen inipun ada yang merupakan cerita nyata. 

Cerpen ini pernah menjadi juara 3 Lomba Cerpen Remaja Tingkat Sumatera Barat yang diadakan oleh Harian Umum Singgalang dan dimuat di halaman Cerpen Remaja Harian Umum Singgalang Minggu tahun 2007.


Selamat membaca :)


PENARI


“Lo lama banget sih!” bentak Selly di telepon.
“Sepuluh menit lagi. Beneran, sepuluh menit lagi gue nyampe,” suara Neyna di seberang sana.
“Awas lo ya, kalau telat lagi.” Selly keki banget kalau janjian sama yang satu ini. Gimana enggak, sepuluh menit menurut Neyna itu bisa jadi dua puluh menit bahkan lebih.
Selly meletakkan gagang telepon. Tak sengaja matanya tertuju pada tumpukan album foto lamanya. Kalau dihitung mungkin mencapai dua puluhan. Karena dari kecil Selly memang suka banget difoto. Apalagi dulu dia sering ikutan lomba nari. Jadi, tiap ikutan lomba pasti selalu ada kamera yang siap menjepretnya dengan berbagai pose.
Selly mengambil sebuah album. Ia membuka album itu. Selly membalik helai demi helai. Ia jadi merindukan momen ini, lomba menari yang memperebutkan trophy Walikota. Sebelas tahun yang lalu. Neyna belum juga memperlihatkan batang hidungnya. Selly mengambil album lainnya. Disitu tampak foto seorang gadis kecil yang mengenakan pakaian adat Sumatera Barat. Dialah Selly kecil yang akan mengikuti lomba tari daerah. Sunting di kepalanya membuat wajahnya tampak semakin imut.
Kenapa Neyna lama sekali? Sudah dua puluh menit berlalu. Selly mengangkat gagang telepon dan memencet nomor handphone Neyna.
“Hallo, Sel. Gue baru aja mau nelpon lo.”
“Nggak penting. Lo dimana sekarang?” Selly sewot.
“Sorry, ban mobil gue kempes. Gue lagi di bengkel. Lo tunggu aja sebentar. Udah hampir selesai kok.”
“Iya, lo suruh aja gue nunggu sampe ubanan.”
“Sorry banget, Sel. Ini beneran kok. Sorry.”
“Ya udah. Cepetan.” Selly menutup telepon. Dasar suka ngaret. Ada aja yang bikin dia telat. Selly menggerutu dalam hati. Selly berusaha menyabarkan diri. Ia meraih album foto berwarna biru muda dengan gambar Tazmania. Ini adalah album kesayangannya. Selain karena emang suka Tazmania, album ini merupakan oleh-oleh Ratih, ketika liburan ke Singapur. Sayang, sekarang Selly nggak bisa lagi ketemu Ratih, sobatnya semasa SMP itu. Ratih meninggal tepat tiga hari setelah memberikan album ini karena kanker otak.
Tangan Selly segera menghapus butiran bening di pipinya. Sebuah foto membuat Selly terpaku. Dua remaja perempuan dan satu laki-laki. Perempuan yang satu sudah pasti Selly. Di sampingnya, gadis sebaya Selly, mengenakan tank top ungu dengan bawahan rok selutut. Dialah Ratih. Sedangkan yang laki-laki adalah Deri, sobat sekaligus rival Selly di setiap lomba menari yang diikutinya. Tapi Selly tak tau dimana Deri saat ini.
Tiba-tiba sebuah amplop bergambar Tazmania jatuh dari album. Surat yang diselipkan Selly di album itu dibukanya lagi untuk kedua kalinya.
My best pren,
Sebelumnya gue minta maaf karena gue nggak pernah ngasih tau lo berdua kalau gue terkena kanker otak. Gue ke Singapur bukan buat liburan, tapi terapi. Waktu lo berdua baca surat ini, mungkin gue udah nggak ada.
Gue punya satu permintaan. Gue mau lo berdua tetap sobatan walau gue udah nggak ada. Walau bersaing di panggung, sobat tetap nomor satu. Pren is pren. Rival is rival. Itu dua hal yang harus dipisahin. Gue yakin lo berdua pasti bisa. Cayo!! Satu lagi, lo berdua harus bisa masuk SMA favorit yang jadi impian kita.
Setelah melipat surat ini, lo berdua harus tersenyum buat gue. Gue sayang lo berdua.
Selly melipat surat itu. “Ini nggak ada artinya lagi, Tih. Deri menghilang entah kemana. Dia egois. Nggak pernah ngabarin gue dia dimana,” Selly bicara sendiri sambil memandangi foto Ratih.
***

Malam tahun baru, dua tahun setelah meninggalnya Ratih…

“Udah siap belum, Sel?” sorak Deri dari halaman.
“Udah.” Selly keluar dengan kaos ketat plus celana jeans pendek. Sebuah jaket terikat di pinggangnya. Setelah pamitan sama orang tua Selly, mobil Deri melaju kencang.
“De, sebentar lagi kita lulus SMA. Lo mau ngelanjutin kemana?” tanya Selly.
“Belum tau, Sel. Gue sih pengennya masuk sekolah seni. Gue mau jadi dancer professional.”
“Wah, sama donk. Gue pengen jadi dancer yang hebat. Terkenal. Kalo bisa go internasional. Lo tau kan, itu impian gue dari kecil.”
“Gue yakin lo bisa,” ujar Deri.
“Gue juga yakin lo bisa. Tapi….” Selly menggantung kalimatnya.
“Tapi apa, Sel?”
“Gue takut lo….”
“Bakal ninggalin lo?” potong Deri.
“Bukan. Kalo itu sih gue yakin lo sobat yang bisa diandalkan. Nggak bakalan ninggalin gue.”
“Trus?” tanya Deri penasaran.
“Lo kan tau, kebanyakan penari cowok yang kita kenal….”
“Hahaha…. Gue tau maksud lo. Lo tenang aja. Gue nggak bakalan seperti mereka,” Deri tertawa lebar.
“Lo jangan terlalu dekat sama mereka.”
“Lo tenang aja.” Selly tersenyum. Deri mengacak- acak rambut Selly.
Tanpa mereka sadari, sebuah trailer melaju kencang ke arah mereka. Deri kaget dan berusaha banting stir. Tapi malang tak dapat dielakkan. “Braaak.” Sebuah benturan hebat terjadi.
Selly membuka mata.
“Kamu sudah sadar, Nak?” tanya Mama Selly.
“Selly dimana, Ma?”
“Kamu di Rumah Sakit.”
“Deri….”
“Kamu tenang aja. Deri nggak apa-apa.”
Tiba-tiba pintu terbuka. Seorang cowok dengan perban di kepala, tangan, dan kakinya melangkah masuk. Dia duduk di bangku yang tersedia. Tepat di sebelah tempat tidur Selly.
“Maafin gue, Sel.”
“Ini bukan salah lo, De. Nggak ada yang salah.”
“Gue udah bikin….”
“Udahlah, nggak usah dibahas. Lo liat kan, gue nggak kenapa-napa?”
“Tapi gue….”
“Ini bukan salah lo. Ini takdir kita.”
“Tapi gue udah bikin lo gagal meraih impian lo. Gue emang nggak berguna. Maki aja gue, Sel.” Deri menyalahkan dirinya atas kejadian yang menimpa mereka.
“Nggak usah hiperbolis gitu. Gue masih bisa meraih impian itu. Gue cuma perlu istirahat beberapa bulan, abis itu gue bisa nari lagi.”
“Tapi, Sel….”
“Ma, kaki kanan Selly gatal,” Selly melirik mamanya. Mama Selly langsung mengusap-usap kaki anaknya. “Mungkin pengaruh obat,” katanya.
“Bukan disitu, Ma. Ke bawah dikit.” Tapi tangan Mama Selly tetap saja disitu, tak berpindah.
“Ma, bantuin Selly duduk,” pintanya lagi. Mama Selly tetap tak bergeming. “Ma, Selly mau duduk,” soraknya lagi.
“Kamu belum boleh duduk, Sayang.”
“Selly kuat kok.”
“Nggak boleh.”
“Mama kenapa sih? Selly udah kuat, Ma. Selly nggak mau terus-terusan begini. Selly mau duduk.” Selly ngotot. Akhirnya Mama Selly mengalah juga. Selly tampak senang. Ia menarik selimutnya. Dia penasaran, apa yang membuat kakinya gatal. Perbankah? Seberapa tebal? Mata Selly tak lepas dari ujung kaki itu, “Ma, Selly… Selly….” Air matanya mengucur deras. Deri merasa sangat bersalah.
“De, gue….” Selly melirik Deri.
“Maafin gue, Sel. Ini salah gue. Gue bodoh, nggak berguna.” Deri berdiri dan segera keluar. Sebelum membuka pintu, dia menoleh ke belakang, “Maafin gue, Sel.” Deri menghilang di balik dinding putih itu. Sejak hari itu, Selly tak pernah melihat Deri lagi. Neyna yang dirawat di sebelah Selly, muncul pada saat yang tepat menawarkan persahabatan.
***
Selly menarik celana panjangnya keatas. Matanya memandangi kaki palsu yang melekat. Air matanya mengucur tak henti.
“Sel, lo kenapa?” Neyna masuk tanpa mengetuk pintu. Perhatiannya tak lepas dari Selly yang menangis.
“Lo kenapa, Sel?” tanya Neyna cemas.
“Nggak apa-apa.” Selly menurunkan kaki celananya dan segera menghapus butiran bening di pipinya.
“Tapi, kenapa lo nangis?”
“Udah, gue nggak kenapa-napa kok. Yuk, berangkat.” Selly menarik tangan Neyna.
Mal yang mereka datangi tampak ramai. Maklum, ini kan hari libur. Banyak ABG yang hanya sekedar nongkrong menghilangkan suntuk. Selly bejalan dengan santai. Tak tampak sedikitpun kalau ia memakai kaki palsu. Begitulah kecanggihan teknologi.
“Sel, kita makan dulu ya? Laper nih,” Neyna memelas.
“Iya deh.”
Waroeng Q_Ta, tempat makan favorit mereka tak kalah ramai. Tempat ini selalu dipenuhi anak muda. Ada yang memang lapar, dan tak jarang mereka yang kesitu hanya ingin cuci mata, sekedar melirik lawan jenis.
Hanya dengan memesan segelas minuman, siapa saja bisa puas duduk berlama-lama disini. Pelayanannya oke punya. Itulah yang membuat anak-anak muda betah.
“Hey, disindang aja.”
“Oke, tuh. Akika bisa bebas liat cowok-cowok.”
“Iya, bener juga,” sahut yang lain. Serombongan manusia setengah perempuan itu duduk di meja belakang Selly.
“Pesen apa niy?” salah seorang dari mereka bertanya.
“Apa ya?” tanya yang memakai jepit rambut merah bingung.
“Akika juga bingung nih,” jawab yang satunya lagi. Tak ketinggalan dengan jari tangan yang melentik-lentik.
“Akika mau milk shake strawberry aja deh.”
“Lo liat deh. Mereka lucu-lucu,” Neyna setengah berbisik. Ia tersenyum sendiri. Selly penasaran juga pengen liat mereka. Selly membalikkan tubuh hingga matanya tepat menatap para banci itu.
Salah seorang dari rombongan itu mengenakan kaos ketat warna oren dengan gambar Tazmania. Jelas saja langsung menarik perhatian Selly. Apapun yang berbau Tazmania tak kan terlewatkan oleh Selly. Mata Selly beralih ke rambut Banci Oren itu. Oren, sama seperti warna bajunya. Selly beralih ke wajahnya. Hidung bangir itu. Ternyata teman si Banci Oren juga memperhatikan Selly. Kakinya menyenggol kaki si Banci Oren.
“Apaan sih?” tanyanya.
“Ada yang merhatiin tuh,” mulutnya monyong ke arah Selly. Mata si Banci Oren mengikuti mulut itu. Matanya beradu pandang dengan mata Selly. Keduanya sama-sama kaget.
“Deri?” Selly seolah tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Si Banci Oren yang ternyata Deri itu diam tak berkutik. Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya Selly berdiri. Tapi tiba-tiba matanya berkunang-kunang. Akhirnya Selly ambruk tak sadarkan diri.

Padang, 20 November 2005