Showing posts with label Traveling. Show all posts
Showing posts with label Traveling. Show all posts

Wednesday, 8 November 2017

Pesona Pahawang

Pahawang, sebuah pulau di Kabupaten Pesawaran Lampung. Pulau ini tediri dari Pahawang Besar, Pahawang Kecil dan Pulau Kelagian. Pahawang ini merupakan salah satu surganya para pecinta snorkeling. Karena Pahawang memang terkenal dengan kekayaan biota lautnya. Berbagai terumbu karang tumbuh di perairan pulau Pahawang. Banyak wisatawan lokal maupun mancanegara yang berkunjung kesini. Dan ini menjadi salah satu destinasi dalam list saya.

Pulau Pahawang Kecil

Trip saya kali ini difasilitasi oleh mypermatawisata.com. Tapi tentu saja nggak gratis. Ini berbayar. Hehe.. Tapi paket yang saya dapat ini lebih murah dibanding beberapa open trip lain yang pernah saya cek (bukan promosi lho). Dengan Rp. 399,000 kalian bisa ikut trip Pahawang, start dari Jakarta. Kebanyakan open trip Pahawang ini meeting point-nya di Merak. Artinya, ini bener-bener super promo. Murah, dan meeting point Jakarta.

Untuk fasilitas bisa cek langsung ke web-nya.
Trip ini dimulai hari Jumat malam, berangkat dari Parkir Timur Senayan pukul 20.00 WIB (di itinerary) tapi nyatanya berangkat sekitar pukul 22.00 WIB (biasalah, orang Indonesia.. Hehe). Sampai di Merak, kita nggak menunggu lama, langsung naik kapal dan nyebrang. Sampai di Bakauheni, perjalanan dilanjutkan menuju Ketapang. Sampai di Ketapang, kita naruh barang di rumah singgah yang disediakan, dilanjutkan sarapan (masing-masing), ganti baju dan prepare untuk snorkeling.


Ready for Snorkeling

Empat kapal segera berangkat menuju spot snorkeling. Tujuan pertama yaitu Gosong Pancong, Pahawang Besar/Taman Nemo. Tujuan ke-dua Penggetahan, masih di Pahawang Besar. Dua tujuan ini adalah spot snorkeling. 

Airnya jernih banget

Happy face, walaupun nggak bisa berenang

Selanjutnya kita menuju Pahawang Kecil. Pahawang Kecil ini bukan spot snorkeling seperti dua tempat sebelumnya, tetapi pantai. Di Pahawang Kecil bisa foto-foto, makan/ngemil, dan mencoba water sport  Di Pahawang Kecil ini ada yang berjualan bakso dan kelapa muda. Ada fasilitas water sport dengan membayar Rp. 35.000/orang. Kamu bisa mencoba donat dan banana boat.


Pose di Pulau Pahawang Kecil

Puas foto-foto, makan, dan uji nyali di Pulau Pahawang Kecil, perjalanan dilanjutkan ke spot snorkeling berikutnya. Buat saya, dua spot aja sudah cukup. Selain karena tidak bisa berenang, kulit mulai gosong dan capek juga. Hehe.. Di spot snorkeling ketiga saya cuma jadi penonton.

Sudah puas snorkeling? Buat yang suka berenang dan snorkeling mungkin belum cukup. Tapi waktu memang harus dibatasi. Kita menuju Pulau Kelagian Lunik untuk istirahat dan sholat. Disini ada mushola dan warung indomie. Lapar lagi? Bisa makan indomie dan teh hangat disini.


Pulau Kelagian Lunik

Dari Pulau Kelagian sebenarnya masih ada satu spot lagi yang akan didatangi. Tapi jam sudah menunjukkan pukul 5 sore, dan ombak sudah mulai tinggi. Kapal sempat berhenti di spot terakhir, tapi nggak ada yang berminat untuk snorkeling . Akhirnya kita melanjutkan perjalanan kembai ke rumah singgah. Bilas dan mandi, lalu menuju homestay yang disediakan.

Oiya, untuk alat snorkeling kita sewa diluar biaya trip. Merogoh kocek Rp. 55.000 kita bisa menggunakan satu set kacamata, snorkel, dan fin (kaki katak)
Cape snorkeling seharian, malamnya acara bebas. Makan malam dan BBQ.
Lalu istirahat.

Minggu pagi, kamu bisa melihat sunrise di dermaga Ketapang. Yang mau eksis dan narsis juga bisa foto-foto disini.

Dermaga Ketapang 

Setelah semuanya beres, perjalanan pulang kembali ke jakarta sudah menanti.

Ada beberapa perlengkapan yang wajib banget kamu bawa kalau ke Pahawang, yaitu sunblock, topi/payung, kamera yang oke, power bank, dan terminal kabel (takutnya nggak kebagian colokan HP atau kamera).

Rasanya pengen balik lagi ke Pahawang, tapi kalau mengingat warna kulit yang belum kembali normal, kayaknya ntar dulu deh. Hehe.. 

Selamat berlibur!

See you on my next post

Sunday, 21 February 2016

Mandalawangi Camp Ground - Dekat dan Ramah di Kantong

Hai..
Buat traveler di luar sana, yang ingin cari suasana yang berbeda, bisa jalan kesini nih. Ini sih bukan catatan perjalanan baru. Sekitar 6 bulan yang lalu. Tapi setidaknya gak jauh berbedalah dari suasana saat ini.

Start.
Kisah ini membawa segerombolan karyawan haus refreshing, yang pulang kerja selalu malam, paginya udah di kantor lagi. Jadi mungkin berkemping ini suatu pengalaman penuh syukur buat mereka. Cailaahh... Lama-lama makin lebay ini ngomongnya. Yuklaah langsung ke tekape.
Berangkat dari kota kasablanka hari Jumat jam 8.30 PM. Menuju cibodas, Mandalawangi Camping Ground. Situasi jalanan lumayan macet. Maklum, Jumat malam waktunya warga Jakarta membebaskan diri dari keseharian yang bikin otak mumet. Acara ini dikelola oleh teman-teman kantor terpilih, yang kami sebut Fun Team, yang tiap tahun membernya berganti. Fun Team yang survey dan mengurus semua perlengkapan. Lebih kurang seperti EO. Two thumbs buat Fun Team 2015. Sekitar jam 12.00 kami disambut oleh Fun Team dengan makanan yang WOW banget. Bakso dan teh anget. Asli racikan teman-teman Fun Team dibantu Mommy kita (red: manager). Cocoklah dengan kondisi malam yang super duper dingin pake banget. Oiya, kalau kesini jangan lupa bawa jaket yang tebel. Karena benar-benar dingin, nggak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Haha..

Salah satu hal yang menjadi pertimbangkan untuk camping disini adalah keamanan. Lokasi dekat dari parkiran, dekat dengan kantor pengelola, penyewaan tenda dan konsumsi bisa disediakan oleh pihak Mandalawangi.
Selesai menghangatkan perut, yang masih mau menikmati malam di camping ground bisa nongkrong di depan tenda. Saya lebih baik cuci muka, bersih-bersih, dan tidur. Karena besok masih ada kegiatan yang butuh energi. Dalam tenda sudah tersedia kasur dan sleeping bag. Walaupun udah pakai jaket tebel plus sleeping bag, dinginnya masih terasa. Gigi sampe nggak bisa diem.

Tenda Sewaan di Mandalawangi


Sabtu pagi yang cerah. Bangun, mandi (rata-rata mandi kucing alias basah-basah muka, rambut, ketek, kaki) dan sarapan. Perlu dicatet, saya mandi loh. Bermodalkan air panas yang dibeli Mommy dari ibu-ibu warung deket kamar mandi. Beneran mandi loh ini. Kalau nggak pakai air panas mah ogah mandi dingin-dingin begitu. Bukannya sombong, tapi itu dinginnya kelewatan. Bisa-bisa badan saya kaku kalau mandi pakai air yang dinginnya luar biasa itu.
Oiya, di camping ground ini disediakan kamar mandi umum. Jadi nggak mandi di kali kayak dulu Kemah Bakti Mahasiswa ya. Ini bisa dibilang agak eksklusif walaupun kamar mandi biasa. Tapi dibanding sama kemah beneran mah enakan inilah. Hehe..
Oke, lanjut yah. Setelah sarapan, perjalanan dimulai. Hiking. Tujuannya ke air terjun Cibodas. Track-nya lumayan juga. Sebelumnya saya udah pernah juga lewatin track ini. Tapi dulu nggak camping. Dulu touring, nginep di puncak, trus ke Cibodas.  Kalau sekarang nginep di Camping Ground deket sini. Lumayan ngos-ngosan juga berjalan di bebatuan yang mendaki. Gempor. Bukan karena faktor U loh (gak mau mengakui), tapi karena kurang olahraga aja. 


 
Perjalanan dari camping area ke TN Gunung Gede Pangrango


Photo Session
 
Sesampainya di atas, terbayar sudah lelahnya kaki mendaki. Air terjun yang segar sudah menanti di depan mata. Lumayan banyak pengunjung yang kesini, karena hari libur. Tapi pasukan merah-merah ini cukup menarik perhatian, karena jumlahnya cukup banyak. Mulailah sesi pemotretan. Halah... Sesi foto-foto narsis tepatnya. Ada yang bawa tongsis juga. Jadi moment ini memang diperuntukkan bagi yang narsis dan gila foto, tak terkecuali saya. Tapi sekarang saya lebih kalem, ngga kayak dulu waktu masih abege. Haha...

 
Pulang dengan track yang sama, tapi lebih enteng karena jalannya menurun. Jadi ngga terlalu berat. Bisa lebih cepat dibanding waktu naik. Sampai di Camping Ground, makan siang sudah tersedia. Kali ini makanan disediakan pengelola Camp Ground Mandalawangi, masuk dalam paket yang kami ambil. Fun Team hanya menyediakan minuman dingin buat teman-teman yang abis panas-panasan. Makan siang yang disediakan luar biasa banget menunya. Ikan goreng, ayam goreng, sayur asem, ikan asin, lalap, dan banyak lagi yang saya lupa pastinya. Hahaha.. Setelah ishoma, acara bebas. Yang mau jalan-jalan, ngobrol, tidur, dipersilahkan. Cuma sampai jam 3.00 PM. Setelahnya akan ada games per team. Biasa, team building. Panitia sudah menyiapkan beberapa games yang harus dimainkan oleh teman-teman. Games ini tidak hanya menguras energi tapi juga pikiran. Yang penting sih dibawa enjoy aja, wong tujuannya untuk have fun kok. Sebelum games dimulai, foto team dulu. Wajib buat dokumentasi dan menyalurkan bakat model teman-teman. Hehhe...
Games yang dimainkan sebagai berikut:
1. Semangka Koin
Semangka yang udah ditancepin koin, dilumurin kecap. Udah kayak mau masak yah. Hahaha.. Nah peserta dari 2 team ini harus mengambil koin menggunakan mulut secara bergantian. Inget yah, mulut. Dan pastinya pake gigi . Waktunya 3 menit. Team yang bisa mengumpulkan banyak koin, dialah yang menang.
2. Lempar Tangkap Bola
Game ini menggunakan keranjang dan bola plastik. Team member berbaris ke belakang dengan jarak sedang, sesuai strategi team. Masing-masing memegang satu keranjang kecil. Member yang paling depan akan melempar bola ke belakang. Yang di belakangnya harus menangkap dengan menggunakan keranjang. Begitu seterusnya sampai member terakhir. Kalau bola sampai dengan selamat ke keranjang terakhir, berarti mendapatkan satu poin. Game ini juga menggunakan waktu. Jadi yang bisa mengumpulkan lebih banyak bola selama waktu yang ditentukan, dialah pemenangnya. Sama seperti game semangka koin.

Games lempar tangkap bola

3. Genggam Tepung
Panitia memberikan tepung di piring plastik masing-masing dengan berat yang sama. Team member berbaris dan secara bergantian mengambil tepung dengan tangan dan memindahkan ke piring ke dua yang disediakan. Tepung digenggam pastinya ada yang tumpah. Setelah waktunya habis, tepung di piring ke dua ditimbang lagi. Yang bisa mengumpulkan tepung lebih banyak, itulah pemenangnya.
4. Mari menggambar
Panitia membagikan satu kertas dan pulpen. Team member berbaris dan secara bergantian akan menuliskan satu garis di kertas sehingga membentuk gambar yang diinginkan panitia. Contoh, kata kuncinya rumah. Member pertama membuat satu garis. Begitu seterusnya secara berurutan. Hanya boleh satu garis.   Setelah waktu habis, panitia akan cek gambar dari dua team ini. Gambar yang bentuknya mendekati kata kunci, yaitu yang paling mirip dengan rumah, itulah yang menang.
5. Si Buta Bawa Bola
Salah satu team member berdiri dengan jarak sekitar 6 meter dari member yang lain. Tugasnya adalah mengarahkan temannya yang akan berjalan dengan mata ditutup dan membawa bola. Di depannya disediakan keranjang untuk mengumpulkan bola yang dibawa. Games ini masih sama, menggunakan waktu dan perhitungan jumlah terbanyak. Lucunya, yang matanya tertutup kadang bingung harus jalan ke arah mana. Karena yang membawa bola akan diputar dulu arahnya. Jadi waktu games mulai, mukanya belum tentu ke arah titik tujuan. Jadi harus mencari sumber suara yang mengarahkan.
Pembahasan games kita stop dulu sampai disini. Kita lanjutin ke acara berikutnya. Mandi sore. Yang ini nggak perlu dijelaskanlah yaa.. Lanjuuut... Istirahat sebelum acara malam. Biar fresh. Cuaca masih bagus, tapi dingin mulai terasa. Siapin jaket tebel dan selimut kalau perlu. Malam ini ceritanya kita bakalan lepas lampion. Tapi sebelumnya kita mau lomba lipsync dulu dengan lagu yang udah ditentuin panitia.



Menikmati malam di alam bebas


Lepas lampion

Kalau mau tau gimana keseruan camping disini, sesekali bisa ajak teman-teman atau keluarga. Ada kok beberapa keluarga kecil yang camping disini. Mereka menyewa satu tenda kecil. Sepertinya mengajarkan anak-anaknya mengenal alam. Lokasinya kids friendly banget.
Oiya, yang penting lagi, harga sewa dan lain-lain. Disini biasanya disediakan paket.
Ini harga paketannya. Kalau mau nanya-nanya dan mau disesuaikan dwngan budget bisa langsung hubungi contact person aja.
1. Paket Camp Mandalawangi IDR 200.000/pax (minimal 20 pax)
2. Paket Camp Mandalawangi IDR 220.000/pax (minimal 15 pax)
3. Paket Camp Mandalawangi IDR 240.000/pax (minimal 12 pax)
4. Paket Camp Mandalawangi IDR 270.000/pax (minimal 7 pax)
5. Paket Camp Mandalawangi IDR 300.000/pax (minimal 4 pax)
Fasilitas :
Tiket masuk Camp Mandalawangi Cibodas
Tiket retribusi PEMDA
Tiket Air Terjun
Tenda dome
Booking Lokasi
Matras/alas spon
Sleeping bag
Makan 4 kali
Penerangan/listrik
Toilet/MCK
Api unggun
Jurit malam
Parkir
Pemandu


So, tunggu apa lagi? Buruan jalan.. Refreshing.
Semoga informasinya bermanfaat.


See u on my next post

Monday, 27 July 2015

Banyuwangi

Kali ini kita traveling ke Banyuwangi. Ada apa sih di Banyuwangi?
Sebenernya banyak, ada Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Teluk Hijau, Pulau Merah, dll. Tapi saya sama temen-temen cuma ke Kawah Ijen sama Baluran.
Trip berawal dari Jakarta. Berangkat berdua dengan kereta Gaya Baru Malam dari stasiun Pasar Senen tanggal 2 Mei 2015 jam 10.30 dan sampai di Surabaya tanggal 3 Mei 2015 jam 01.25 dinihari. Cukup lama. Ternyata saya salah booking, gak merhatiin jalurnya. Kereta ini melewati jalur selatan yang ternyata lebih lama, karena muter. Pantes aja orang yang depan saya heran, kenapa naeknya yang jalur selatan. Saya sih gak tau jalur yang deket mana. Yang saya tau, pas online cari tiket ke Surabaya, yang masih ada seat cuma yang ini, ya jadilah booking tanpa tau jalur yang dilewati. Hehhe...
Oke, sampai di Stasiun Surabaya Gubeng jam 01.30. Bisa dibilang ontime lah ya. Kami naik taxi menuju Srikana, rumah temen, numpang nginep. Dan Blue Bird yang kami tumpangi kayaknya sengaja bawa kami ke jalan yang salah.
"Eh, Mba ke Srikana yah, saya lupa."
Helloooo... Kita tuh udah bilang ke Srikana dari masuk taxi. Trus saya juga nelpon temen, bilang "Srikana kan, Mba?" dengan suara yang pastinya didenger sama si sopir taxi. Jelas banget dia ngerjain kita. Okeh, anggap aja rezekinya dia. Sampai di rumah Mba cantik jam 02.00. Saya mandi dan bobo cantik walaupun sebentar.
Paginya, bangun, ngobrol di meja makan sambil ngeteh. Trus ditawarin makan pecel. Travelmate saya yang dari kemarennya emang nyariin pecel langsung happy donk, walaupun agak basa-basi dikit. Hehhe.. Kita diajakin ke tukang jual pecel dan dibayarin, alias makan gratis.
Jam menunjukkan pukul 08.30. Kereta menuju Banyuwangi jam 09.00. Buru-buru ganti baju, dan kita dianter ke Stasiun Surabaya Gubeng. Maaci loh Mba cantik..
Go to Banyuwangi.


Hello Banyuwangi

Kami turun di Stasiun Karangasem. Baru keluar stasiun, si Ibu Dewi yang punya homestay langsung telpon. Beliau udah nungguin di depan rumahnya, Toko Subur. Kami masuk dan liat kamarnya. Yang di atas, fasilitas kasur dan kipas angin, kamar mandi di luar, gantian sama yang lain. Tarifnya Rp. 50.000/malam/kamar. Yang pasti gak bebas gunain kamar mandi. Yang di bawah, kamarnya gede, kamar mandi di dalam, AC, kasurnya 2, bisa buat berempat. Tarifnya Rp. 150.000/malam/kamar. Oke, kami putuskan menginap disini.

Selain penginapan, kami juga rental mobil dari Bu Dewi. Satu hari Rp. 450.000 untuk mobil dan sopir. Exclude bensin.
Waktunya mandi dan istirahat. Abis maghrib kami akan dianter Bu Dewi cari makan. Niatnya mau makan sego tempong, tapi ternyata tutup. Akhirnya kami makan bebek kobong. Rasanya? Jangan ditanya. Enak memang. Tapi pedesnya luar biasa. Dan kami salah strategi. Harusnya minta sambelnya dipisah, ini malah dituang langsung ke bebek dan ayamnya. Alhasil semuanya pedes. Siap-siap mules :)
Kembali ke penginapan dan istirahat sebelum menuju Kawah Ijen.

Head lamp, salah satu perlengkapan ke Ijen

Gunung dan Kawah Ijen
Gunung Ijen adalah sebuah gunung berapi aktif yang terletak di daerah Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. Gunung ini mempunyai ketinggian 2.443 mdpl dan telah empat kali meletus (1796, 1817, 1913, dan 1936). Untuk mendaki ke gunung ini bisa berangkat dari Banyuwangi atau Bondowoso.

Jam satu teng kami berangkat menuju Paltuding. Perjalanan sekitar satu jam dari Karangasem. Di Paltuding kami ketemu Mas Eko, guide yang nemenin kita mendaki nantinya. Mas Eko ini penjaga kantin di Paltuding. Tepatnya anak dari penjaga kantin. Dia sering jadi guide disini. Kita ngobrol sebentar trus duduk di kantin nunggu diperbolehkan jalan. Jalannya dibuka jam 3 katanya. Tapi jam 2 lewat kita udah mulai jalan. Karena ini bukan weekend, kebanyakan yang kesini bule. Wisatawan lokal kebanyakan di hari libur. Bersyukur juga sih nggak terlalu rame. Karena sehari sebelumnya penuh sesak dan nggak bisa menuju kawah.

Dari Paltuding berjalan kaki dengan jarak sekitar 3 km. Jalanan pertama masih landai, lalu sejauh 1,5 km cukup berat karena menanjak. Sebagian besar jalur dengan kemiringan 25-35 derajad. Kemudian mulai terjal, lalu datar (bonus, istilah kami), lalu naik lagi. Selain menanjak struktur tanahnya juga berpasir sehingga langkah kaki semakin berat karena harus menahan berat badan agar tidak merosot ke belakang. Akhirnya kami sampai di Pos Bunder. Kami istirahat sebentar di pos yang bentuknya seperti lingkaran ini. Pos Bunder ini tempat penimbangan belerang. Disini ada kantin. Tapi sayangnya kantinnya nggak buka waktu kami sampai disini. Padahal pengen nge-teh dulu. Kami duduk sebentar di bangku kantin sebelum melanjutkan perjalanan.
Setelah beristirahat di Pos Bunder, perjalanan dilanjutkan dengan medan yang cukup landai.

Pendakian yang lumayan menguras energi. Tapi sesampainya di atas, Subhanallah, luar biasa indahnya. Disini para pendaki disuguhi pemandangan deretan pegunungan yang sangat indah. Untuk turun menuju ke kawah harus melintasi medan berbatu-batu sejauh 250 meter dengan kondisi yang terjal. Kami harus turun dengan menggunakan masker. Terjal dan harus hati-hati banget. Sesekali kami harus menepi karena harus gantian dengan penambang belerang yang mau naik. Ngomong-ngomong tentang penambang belerang, mereka ini bisa mengangkut sekitar 70-80Kg sekalinya. Dan kalian tau berapa harga belerang yang mereka angkut? Rp. 900/Kg. Dengan resiko yang cukup tinggi, terpapar gas belerang, udara dinginnya dinihari, mereka tak hanya beresiko terjatuh dan luka tapi juga beresiko penyakit lain seperti paru-paru.


Gas belerang di Kawah Ijen


Kawah Ijen ini adalah sebuah danau kawah yang bersifat asam yang berada di puncak Gunung Ijen dengan tinggi 2368 meter di atas permukaan laut dengan kedalaman danau 200 meter dan luas kawah mencapai 5466 Hektar. Setiap malam, di sekitar Kawah Ijen dapat dijumpai blue fire atau api biru, yang menjadi tujuan utama para wisatawan termasuk kami. Pemandangan alami ini hanya terjadi di dua tempat di dunia yaitu Alaska dan Ijen.
Kawah Ijen

Rasanya begitu luar biasa bisa sampai disini. Dengan pemandangan yang sungguh mengagumkan.

Narsis dengan masker
Candid [pura-puranya]

Coba perhatiin foto di bawah ini. Ini adalah pemandangan pagi waktu kami berjalan turun. Indah banget.
Pemandangan pagi dari Kawah Ijen menuju Paltuding

Taman Nasional Baluran
Taman nasional Baluran terletak di Banyuputih, Situbondo, Banyuwangi sebelah utara. Nama taman ini diambil dari nama gunung, yaitu Gunung Baluran. Taman nasional ini terdiri dari tipe vegetasi sabana, hutan mangrove, hutan musim, hutan pantai, hutan pegunungan bawah, hutan rawa dan hutan yang selalu hijau sepanjang tahun. Sekitar 40% adalah hutan sabana yang disebut Savana Bekol, yang kalau di musim kemarau persis seperti di Afrika. Sayangnya kami kesana bukan di musim kemarau. Tapi cukup bagus juga, walaupun rerumputannya masih hijau.
 
Dari Karangasem ke Taman Nasional Baluran cukup jauh, sekitar 2-3 jam kira-kira. Tiket masuk Taman Nasional ini standart, tidak mahal. Dari gerbang masuk ke Savana Bekol lumayan jauh juga, gak memungkinkan untuk jalan kaki. memang harus menggunakan kendaraan. Tempat yang pertama kami jumpai di taman Nasional ini ya padang rumput yang cukup luas dan hijau. Inilah Savana Bekol.

Savana Bekol
Landscape Savana bekol
Bagi yang suka foto-foto, kayaknya kudu wajib kesini. Bnyak spot yang bagus, yang harus dicapture. Savana Bekol aja bisa menghasilkan banyak foto dari berbagai sudut.


So happy bisa jalan-jalan sekalian reuni

Model Ala-ala


Sepertinya foto dari sudut manapun hasilnya bagus. Buat yang mau narsis tapi nggak bawa juru foto mungkin bisa bawa tongsis alias tongkat narsis :)
Foto narsis kami
Wefie di jalanan TN Baluran
Tak ada yang lebih indah dari wefie ini :)
Masih di Savana Bekol, namun agak ke pinggir, terdapat tengkorak hewan seperti sapi dll. Tidak hanya tengkoraknya saja, di Taman Nasional ini juga terdapat hewan seperti banteng, kerbau, kijang, rusa, macan tutul, kancil, dan monyet. Banteng merupakan mascot/ciri khas Taman nasional Baluran ini.
Tengkorak
Perjalanan tidak berhenti sampai disini. Kami melanjutkan ke Pantai Bama. Lokasinya tidak terlalu jauh dari Savana Bekol. Tapi lumayan juga sih. Hehhe...
Sebelumnya saya pernah searching tentang Pantai Bama ini. Di foto kelihatan bagus banget dan pantainya luas. Pas kami sampai di Pantai Bama, hal pertama yang menjadi perhatian kami yaitu monyetnya. Disini banyak banget monyet dan berusaha mendekati kita. Karena trauma dengan monyet jahil di Batu Caves, kami jadi hati-hati berjalan disini. Barang-barang yang sepertinya menarik perhatian seperti kacamata langsung masuk tas. Pak Tholib yang driver merangkap guide kami siap sedia dengan kayu, sekedar buat nakutin si monyet-monyet itu.
Kesan pertama pada pantai ini yaitu "kotor". Pantai ini nggak bersih sama sekali. Agak kecewa memang melihat pantai ini. Kecil dan kotor. Kami jadi berpikir, kenapa foto yang kami search di mbah google kelihatan luas ya? Dengan guide Pak Tholib, kami meninggalkan bibir pantai dan berjalan masuk hutan. Ya, disini terdapat hutan mangrove. Lagi-lagi mengecewakan. Hutan ini bau, sangat bau dan juga tidak terawat. Mulai dari jalanan dalam hutan, jembatan, terlihat sekali tidak terawat. Kami melewati jembatan menuju sebuah hangar/pondokan yang berada di atas bibir pantai. Kami mulai cari spot foto disini. Ternyata.... foto-foto Pantai bama yang terlihat luas itu diambil disini. dari sini memang Pantai bama terlihat luas dan bagus. Apalagi di senja hari. Berbeda jauh dengan riil-nya. Di foto bener-bener kelihatan bagus.
Pantai Bama
Dari dua destinasi liburan kami kali ini, overall Banyuwangi layak dijadikan tujuan wisata kalian. Mungkin lain kali kami akan ke Pulau Merah, Green Bay dan yang lainnya. 
Penasaran pengan liat sendiri? Langsung aja ke Banyuwangi.

Oya, buat yang cari penginapan atau rental kendaraan di banyuwangi bias hubungi Ibu Dewi/Bpk Abu Tholib (Toko Subur, depan Stasiun Karangasem) di HP 085236155003
See you on my next post.
Salam traveler

Wednesday, 3 June 2015

Trip To Dieng

Perjalanan kali ini mengarah ke Jawa Tengah. Ikut trip "Sunrise at Dieng" dengan Kili-kili Adventure tanggal 2 April 2015.
Bingung mau bawa apa? Ini nih yang harus disiapkan untuk trip Dieng.

1.   Backpack/Ransel/Carrier /Tas yang cukup untuk membawa perlengkapan pribadi.
2.   Pakaian secukupnya
3.   Peralatan mandi
4.   Jaket tebal, sarung tangan, kaos kaki dan kupluk/kerpus
5.   Obat-obatan pribadi (antangin, antimo, minyak kayu putih, dll)
6.   Sunblock
7.   Payung /Jas Hujan
8.   Kacamata hitam/sunglasses
9.   Senter atau head lamp (wajib bawa)
10. Makanan ringan yang banyak (hihi)
11. Camera DSLR/ Pocket/ Hp juga gapapa deh
12. Sandal / sepatu trekking
13. Sarung / selimut
 
Mau liat itinerary-nya? Ini dia...
 
Day 1 - 2 April 2015
17.30 = Meeting Point di Plaza Semanggi
19.00 = Go to Wonosobo
 
Day 2 - 3 April 2015
08.00 = Kuliner Mie Ongklok Longkrang di Wonisobo
09.00 = Go to Dieng
10.00 = Check in Homestay & Ishoma (istirahat, sholat, makan)
12.30 = Explore Telaga Warna, Kawah Sikidang, Dieng Theater, Telaga Pangilon, Puncak Sidengkan dan Perkomplekan Candi Arjuna
17.00 = Back to Homestay, bersih2 + makan malam
19.00 = Silaturahmi ala Kili Kili Adventure (Modus Time)
21.30 = Tidur, begadang pun silahkan 
 
Day 3 - 4 April 2015
03.00 = wake up, prepare trekking sikunir
04.00 = trekking and hunting sunrise at sikunir
07.30 = kembali menuju penginapan (mampir & selfie di telaga cebong&persawahan)
10.30 = mandi, sarapan, packing and check out
12.00 = Go to Wonsobo, Mampir oleh-oleh
16.00 = Go to Jakarta 
 
Monggo kalau mau nyontek :)
 
Yuk, kita lanjutin ceritanya.
Meeting point di Plaza Semanggi jam 5.30 PM. Elf yang dicarter belum nongol juga dan anggota trip yang dari Bekasi juga belum nyampe. Jam 7, jadwal keberangkatan yang dijanjikanpun lewat.

Akhirnya... Kita berangkat jam 9 malam. Dan yang bikin kesel lagi, sopirnya gak tau jalan. Kita nyasar, nanya-nanya, dan jadwal jadi berantakan.

Okeh. Itinerary Day 2 batal semua, kecuali makan mie ongklok.

Sampai di alun-alun Wonosobo udah jam 6 sore tanggal 3 April 2015, yang seharusnya kita sampainya pagi. Demi mengisi perut yang sudah kritis, kami mampir di warung mie ongklok, yang memang ada dalam itinerary.

Mie Ongklok Pak Yadi

Mie ini adalah salah satu makanan khas kota Wonosobo dan sekitarnya.
Mie, kol, tahu, dan potongan daun kucai yang diracik dengan kuah kental berkanji yang disebut loh. Ada yang disajikan dengan pendamping sate, ayam goreng, bakso, dll. Kebetulan yang dijual Pak Yadi ini Mie Ongklok dan Sate.

Kenapa namanya ongklok?
Ternyata ongklok adalah alat dari anyaman bambu yang dipake buat ngerebus mie-nya.

Hohoo…

Mie Ongklok

Perjalanan dilanjutkan menuju Dieng. Gerimis kecil menyertai perjalanan sore ini. Berliku dan dingin. Jalanan menuju dieng tidak bisa dilewati bus besar, karena jalannya kecil, mendaki, dan berkelok-kelok. Kami sampai di penginapan sekitar jam 8 malam. Dan, tentu saja langsung rebutan kamar mandi, karena udah sehari gak mandi. Untung aja saya duluan. Brrrrr.... Cuaca yang dingin, hujan, bikin menggigil. Tapi tetap harus mandi, demi kelangsungan hidup orang banyak.
 
Oiya, karena di homestay jualan oleh-oleh, kita langsung ngumpulin oleh-oleh dulu, takut besoknya gak sempat mampir.
 
Oleh-oleh Dieng
 
Waktunya molor dan bangun di jam 2 dinihari. Jam 3 mulai jalan menuju sikunir. Trekking sikunir ini lumayan sulit buat yang gak pernah olahraga. Medannya sih sebenarnya gak susah, kayak naik tangga aja. Tapi justru itu yang bikin ngos-ngosan. Sempet berhenti di tengah, jantung berdebar kenceng dan mata mulai berkunang-kunang kayak mau pingsan. Akhirnya minta dipegangin sama Bena yang dari Kili Kili Adventure. Udah agak tenang, baru lanjutin lagi. Dan alhamdulillah sampai juga di atas. Banyak yang nungguin sunrise disini. Banyak banget. Puas liat sunrise, akhirnya kita turun. Kembali ke homestay, mandi dan sarapan.
 
Sunrise di Sikunir

Keindahan sunrise dari Sikunir

Perjalanan dilanjutkan menuju Telaga Warna. Masih cukup waktu. Atau dipaksa cukup. Mendatangi semuanya walaupun cuma sebentar.

Telaga Warna
Telaga Warna, sebuah danau vulknanik dengan daya tarik dari air danau yang memantulkan gradasi warna. Konon kabarnya menurut penduduk setempat, sekitar sepuluh tahun yang lalu pancaran warna di telaga ini berwarna-warni  indah seperti pelangi. Namun sayang kini hanya pancaran warna tersebut sudah tak sebanyak seperti dahulu akibat dari aktivitas manusia yang merusak alam sekitar, sehingga berpengaruh terhadap kondisi Telaga Warna. Lihat saja banyak bukit-bukit yang dibuka untuk lahan perkebunan. Kini hanya pantulan warna kehijauan saja yang terlihat di danau ini yang berasal dari aktivitas vulkanik. Ya, danau ini mengandung sulfur atau belerang sehingga terkadang mengeluarkan bau tidak sedap yang cukup menyengat di indera penciuman.

 
Telaga Warna
Rakit di Telaga Warna

 
Lanjut Kawah Sikidang
Kawah eksotik yang terletak di Kecamatan Batur, Jawa Tengah.
 
Bebatuan di sekitar Kawah Sikidang

 
Dieng Theater
Dieng Plateau Theater, sebuah bioskop mini berkonsep edukasi yang menyajikan film mengenai sejarah keberadaan Dieng.
Dieng Plateau Theater berlokasi tidak jauh dari Telaga Warna. Ada dua pilihan jalan menuju ke tempat ini. Anda dapat menggunakan kendaraan maupun tracking dari arah Telaga Warna, tinggal ikuti saja jalan setapak yang ada papan petunjuk arah menuju DPT (Dieng Plateau Theater) di dekat pintu masuk telaga. Dibutuhkan sedikit perjuangan dan stamina yang prima karena walau jaraknya cukup pendek (sekitar 200 meter), namun jalan setapak relatif menanjak. Pemandangan yang disajikan cukup sebanding kok dengan perjuangan. View Telaga Warna yang tertutup rimbun pepohonan siap menemani perjalanan.
 
Film di Dieng Theatre

Telaga Pangilon
Telaga Pengilon, sebuah telaga dengan airnya yang jernih dan airnya bisa digunakan untuk bercermin. Entah benar atau tidak mitos yang beredar mengenai telaga tersebut, tetapi pemandangan di Telaga Pengilon memang cukup cantik. Di kelilingi oleh deretan perbukitan dan pohon-pohon rindang di sekelilingnya. Kaki seolah tidak mau beranjak meninggalkan Telaga Pengilon ini. Keberadaan sebuah pohon yang tumbuh condong ke arah telaga seolah menjadi pembatas area jelajah telaga ini. Ya di dekat pohon inilah biasanya banyak wisatawan yang berhenti sambil menikmati pesona keindahan Telaga Pengilon ini.

Perkomplekan Candi Arjuna

Candi Arjuna adalah sebuah bangunan candi Hindu yang terletak di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah, Indonesia.
Candi Arjuna merupakan salah satu bangunan candi di Kompleks Percandian Arjuna, Dieng. Di kompleks ini juga terdapat Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa, dan Candi Sembadra. Candi Arjuna terletak paling utara dari deretan percandian di kompleks tersebut. Sementara itu, Candi Semar adalah candi perwara atau pelengkap dari Candi Arjuna. Kedua bangunan candi ini saling berhadapan.

Pose di depan salah satu candi
 
Seperti umumnya candi-candi di Dieng, masyarakat memberikan nama tokoh pewayangan Mahabarata sebagai nama candi.
 
Di perkomplekan Candi Arjuna ini ada badut-badut yang lagi trend sekarang.
 

Teletubbies di sekitar Perkomplekan Candi Arjuna
 
 
 
Sepertinya cukup segini dulu. Yang mau ke Dieng nanti sekitar bulan Agustus kalau gak salah ada Dieng Culture Festival. Tapi pasti rame banget yah...

Salam traveler 😀

See u on my next post
 

 
 

 
 

 

 
 

Wednesday, 28 January 2015

Jelajah Malaysia

Jelajah Malaysia sepertinya terlalu lebay untuk catatan perjalanan yang sedikit ini. Tapi gak pa-pa lah untuk menggambarkan lima hari di Malaysia.

Rabu malam yang hectic banget. Keluar kantor jam 8.30 malam, naik angkot ke Mall Ambassador dan akhirnya nyampe juga di kamar kecil kost wanita baik-baik a.k.a KWB. Packing yang ribet. Dibantu sama Mba Ira, tetangga depan kamar, akhirnya kelar jam 22.30 WIB. Dan... go ke kosan Rika, travelmate kali ini. Sampe kosan Rika udah jam 23.30 WIB. Luar biasa. Harus tidur walaupun cuma dua jam. Jam 02.00 taxi udah nunggu di depan. 02.30 cuss ke bandara.

03.25 check in. Take off nya baru jam 5.25 WIB. Melelahkan. Bandara Soekarno Hatta - Changi Airport - LCCT. Dari LCCT harus naik bus lagi ke KL Sentral. Tiket bus LCCT - KL Sentral ini berkisar 8 RM - 10 RM. Perjalanan LCCT - KL Sentral memakan waktu sekitar 1,5 jam. Dari KL Sentral ke Vista Komanwel, apartemen temen tempat kami bakal menginap, kami naik budget taxi. Alasannya sih simple, takut dikenakan argo kuda kalo naik taxi sembarangan. Tarif taxi dari KL Sentral ke Vista Komanwel Bukit Jalil ini 23 RM, sekitar Rp 85.000. Lumayan, karena ternyata cukup jauh juga. Sampai di Vista Komanwel ternyata jam 15.30 WIB.

Start from here...

1st Day
Perjalanan pertama dimulai. KLCC di sore yang berkabut karena kebakaran hutan. So, foto-foto dengan background Twin Tower tidak terlalu jelas. Hujan juga gak mau kalah. Akhirnya orang-orang berlarian ke mall. Menunggu hujan reda, saya dan travelmate makan dulu. Go to foodcourt. Makanan yang sama seperti foodcourt di Jakarta. Setelah hujan reda, photo session dilanjutin lagi. Lumayan walaupun cuaca gak jelas. Perjalanan hari pertama dicukupkan dengan belanja sepatu di Vincci Suria KLCC.

Feel free to pose

2nd Day


Tiket dari Berjaya Hotel ke Colmar Tropicale
Random banget. Tujuan utama adalah Colmar Tropicale. Dari Vista Komanwel, naik RapidKL dari Stasiun Sri Petaling ke  Stasiun Hang Tuah, lanjut dengan monorel ke Stasiun Imbi. Harga tiket Sri Petaling - Imbi yaitu 3.1 RM/org. Dari Stasiun Imbi, jalan menuju Berjaya Times Square, beli tiket untuk Berjaya Hotel - Colmar Tropicale. Tiket ini dijual di The Chateau, Berjaya Times Square lantai 8. Harga tiket ini 55 RM/org, termasuk tiket masuk Colmar Tropicale, bus dari French Village ke Japanese Tea House dan Botanical Garden. Lama perjalanan sekitar 1,5 jam.
 
11.30 Colmar Tropicale - French Village
Di sini terdapat bangunan seperti bangunan di Eropa. Dengan gaya khas bangunannya yang tinggi, bener-bener keren. Perkampungan Eropa yang memang menarik untuk didatangi. Setelah ngobrol dengan receptionist hotel disini, ternyata bagian atas semua bangunan disini adalah kamar - kamar hotel. Di bawah digunakan untuk restoran dan toko souvenir.

French Village - Colmar Tropicale
12.15 Naik bus menuju Japanese Tea House. Suasana rumah Jepang yang sederhana. Disini disewakan kimono dan yukata seharga 20 RM untuk 10 menit. Gak banyak yang bisa dilihat disini. Tapi suasananya cukup nyaman, sejuk karena berada di dataran tinggi. Disini juga terdapat toko yang menjual souvenir.

Japanese Village
13.15 Kembali ke Colmar.
Keliling lagi, foto - foto sebentar, dan jam 15.00 siap untuk kembali ke Berjaya Times Square.

Tujuan berikutnya yaitu Dataran Merdeka. Harga tiket monorel dari Imbi ke Masjid Jamek yaitu 2.4 RM. Stasiun Imbi - transit Stasiun Hang Tuah - Stasiun Masjid Jamek. Dari stasiun masih jalan sedikit ke Dataran Merdeka. Disini terdapat taman dan pajangan foto Perdana Menteri Malaysia dari yang pertama sampai dengan saat ini. Disini juga terdapat Galeri Kuala Lumpur yang isinya tentang sejarah kemerdekaan dan kehidupan lingkungan Kuala Lumpur. Cukup menarik.

Salas satu sisi dalam Galeri Kuala Lumpur


Di depan Kuala Lumpur City Gallery
Masih belum berhenti sampai di sini. Lanjut menuju Bukit Bintang. Yang pasti cari makan dulu. Laper sodara-sodara. Akhirnya foodcourt lagi. Makan Nasi Lemak khas Malaysia. Udah cukup malam untuk jalan-jalan. Dari Bukit Bintang kami berjalan ke Berjaya Times Square. And then kembali pulang ke Vista Komonwel
3rd Day
Sabtu, hari ke-tiga. Ready to Malacca. Malacca sekitar 3 jam perjalanan dari Petaling Jaya, tepatnya tempat kami berada, Vista Komonwel. Perjalanan kali ini tidak menggunakan angkutan umum alias dianter Anita. Tiga jam di mobil sambil ngeliatin jalanan. Jauh beda dengan negara kita. Tata kota dan jalan raya Malaysia sudah sangat rapi. Jalanan ngga macet, sistem autopay untuk bayar parkir, ngga ada yang jualan gorengan gerobak di pinggir jalan, bener-bener rapi.
Di Melaka (bahasa Malaysia untuk Malacca/Malaka) terdapat museum sejarah. Museum Samudera yang menyimpan berbagai benda sejarah Malaka ini adalah sebuah kapal dagang yang dulu digunakan untuk berlayar. Malaka dulunya adalah kota perdagangan. Tempat berkumpulnya orang dari berbagai negara untuk melakukan transaksi. Barang-barang yang diperjualbelikan yaitu bahan pokok atau hasil bumi seperti rempah-rempah, beras, dan lain-lain. Museum ini cukup menarik untuk dikunjungi.
Malacca/Malaka/Melaka
Selain museum, Malaka punya menara yang tinggi, yaitu Menara Taming Sari. Dari ketinggian menara ini kita bisa melihat keseluruhan Malaka. Fantastis. Melihat lampu-lampu Malaka dari ketinggian 80 meter.

Malaka dari ketinggian Menara Taming Sari

Di Malaka banyak dijumpai bangunan tua bersejarah. Tak jauh dari situ juga ada Taman Bunga Merdeka Bandaraya Melaka. Cukup ramai, rata-rata wisatawan dari Asia.
Satu lagi yang recommended di Malaka,  bukan tempat wisata, melainkan restoran. Namanya Asam Pedas Claypot. Lokasinya di Jl. Laksamana 5 No. 86 Taman Kota Laksamana Melaka. Asam Pedas Claypot ini cukup terkenal di Melaka. Ada bermacam-macam ikan yang jadi menu asam pedas disini. rasanya juga hmmm... pedesss. Bikin nafsu makan meningkat. Tapi hati-hati, bisa bikin perut mules.

Asam Pedas Claypot

4th Day
Tujuan hari ini adalah Batu Caves. Batu Caves ini adalah bukit batu kapur yang mempunyai gua dan kuil gua, berada di daerah Gombak, 13 KM utara Kuala Lumpur. Akses ke Batu Caves ini cukup gampang. Dari station Titiwangsa tinggal jalan sampe ke jalan utama, lalu naik bus yang ke Batu Caves. Kalau ragu bias Tanya warga sekitar. Tiket kesana cuma 2RM dengan lama perjalanan sekitar 30 menit, nggak jauh dari KL (hasil browsing sebelum berangkat). Karena saya dan travelmate diantar tuan rumah, jadi kami nggak naik bus dan nggak terlalu merhatiin jalan. Hehhee...
Batu Caves ramai dipadati pengunjung. Mungkin juga karena itu hari Minggu, jadi banyak yang berlibur kesana. Burung-burung merpati beterbangan di area depan patung besar Sri Subramaniar Swamy Devasthanam.
Naik tangga sekitar 270 anak tangga smenuju goa diatasnya sungguh bikin ngos-ngosan. Harti-hati, disini banyak monyet yang bisa dibilang iseng. Kreatif banget ngambilin makanan pengunjung, sampe-sampe minuman di tanganpun direbut dan diminum. Di bagian atas ini terdapat Goa yang di dalamnya ada patung-patung, dupa, dan tempat kuil. Kuil ini merupakan kuil Hindu terpopuler di luar India.

Pose di Batu Caves
Perjalanan berlanjut ke Menara Kuala Lumpur (KL Tower) yang merupakan landmark Ibukota Malaysia. KL Tower menjadi ikon terkenal Bandaraya Malaysia dengan tinggi 421 meter dan merupakan menara telekomunikasi dengan antenna di atasnya. Menara ini digunakan untuk memancarkan gelombang beberapa stasiun televisi dan radio juga digunakan untuk mengamati jatuhnya hari- hari penting dalam Agama Islam.Menara Kuala Lumpur terlihat lebih tinggi daripada Menara Kembar Petronas karena letaknya yang diatas Bukit Nanas. Pada bagian atas menara terdapat restoran berputar yang menyajikan pemandangan kota Kuala Lumpur. Menara Kuala Lumpur terbuka bagi umum, pengunjung bisa menikmati pemandangan di observation deck dengan teropong yang tersedia. Selain restoran berputar, di sekeliling Menara Kuala Lumpur merupakan hutan yang sejuk dan asri untuk dinikmati pengunjung.Pengunjung bisa berjalan kaki ataupun melakukan kegiatan bertualang di sekitar Bukit Nanas ini.
The Last Day
Hari terakhir di Malaysia. Take off sore dan masih sempet-sempetnya mampir dulu ke Putrajaya. Mumpung masih ada waktu. Lagi-lagi dianter Anita. Sungguh merepotkan. Hehhe...
Putrajaya menjadi Pusat Administrasi Pemerintahan Malaysia menggantikan lokasi yang lama di Kuala Lumpur. Bangunan kantor perdana menteri berada di tengah kompleks memiliki 3 kubah berwarna hijau, sekilas orang mengira seperti bangunan masjid, tapi ternyata bukan. Bangunan masjid justru berdiri kokoh di sebelah kiri kantor perdana menteri, yakni Masjid Putra.
Putrajaya - Malaysia
Jika di Indonesia, kemegahan masjid putra ini hampir menyerupai Masjid Kubah Emas, Depok, Jawa Barat atau Masjid At-Tien Taman Mini atau Istiqlal. Bedanya, Akses jalan menuju Masjid Putra benar-benar luas dan tertata rapi, berbeda jika kita memasuki kawasan Masjid Kubah Emas yang sempit jalannya.
Masjid putra bernuansa warna merah bata perpaduan merah jambu atau pink. Letaknya berada di pinggir danau, sehingga terlihat seperti mengapung jika dari kejauhan. Masjid ini cukup elok dan cantik, dipadu menara yang tingginya 116 meter.
Saat masuk ke dalam masjid, pengunjung wanita diminta memakai jilbab atau mukena. Bagi wanita warga asing, pengelola masjid menyediakan pakaian khusus berkerudung. Pengunjung wisatawan juga tak bisa leluasa berada di dalam masjid hingga sampai ke mimbar khotib, tetapi ada tempat khusus yang dibatasi pita di pintu masuk masjid. Di sini pengunjung boleh mengambil gambar.


Di Putrajaya kami menyempatkan makan siang yang menurut saya lumayan mahal. Nasi biryani yang saya makan ini kalau dirupiahkan lebih dari seratus ribu.


Nasi Briyani
Akhirnya.... menuju bandara. Dan kembali ke Jakarta.
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.