Monday, 9 February 2015

Pernikahan Padang VS Jawa (Minang VS Non Minang)

Searching...

Setelah patah hati, iseng googling ada gak sih yang case-nya kayak saya?
Punya hubungan sama orang Jawa, tapi gak direstui.
Jawabannya, ADA dan BANYAK.
Tapi, dari sekian banyak yang muncul, gak ada yang perempuan Padang dan laki-laki Jawa. Rata-rata laki-laki Padang, perempuannya Sunda atau Jawa. Dan itu yang gak setuju adalah keluarga laki-laki yang orang Padang.


Laki-laki Padang (Minang) dan Perempuan Non Minang

Konon katanya adat Padang itu ribet, banyak aturan, dan kolot. Saya lebih suka menyebut adat minang, karena Padang cuma nama kota dan adat yang dipakai di Padang tetap adat minang. Salah satu hal yang dianggap bermasalah dan tersebar di luar yaitu laki-laki minang tidak diizinkan oleh keluarganya menikah dengan perempuan non minang. Tapi sebenarnya pada kenyataannya gak begitu. Zaman berubah dan pola pikir orang juga berubah. Mungkin dulunya memang ada kejadian dimana laki-laki Minang dilarang menikah dengan selain perempuan minang. Alasannya menurut saya karena hukum matrilineal yang berlaku pada adat minang. Anak akan mewarisi suku ibunya. Jika ibunya non minang maka anaknya gak punya suku, tidak ada yang meneruskan suku, karena suku bapak gak akan diwariskan ke anak. Jadi menurut adat minang, jika laki-laki minang menikah dengan perempuan non minang akan mengaburkan silsilah garis keturunan anak di Minangkabau. Secara adat si anak tidak dapat diterima di Minangkabau karena tidak ada garis keturunan minang. Si anak akan dianggap tidak memiliki darah minang. 

Dalam Islam yang dinyatakan dalam Al-Qur’an surat al-Hujurat ayat 13:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, Kami ciptakan kamu bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar kamu bisa saling kenal mengenal (ta’aruf), sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling taqwa, sesungguhnya Allah maha mengetahui segala sesuatu”.

Pada dasarnya tidak ada yang salah dari pernikahan luar suku ini. Allah sendiri membolehkan pernikahan luar suku ini, hanya saja ketika dibawa kepada budaya adat alam Minangkabau, anak dari laki-laki minang yang menikah dengan perempuan non minang tidak akan memperoleh suku di minang, karena pernikahan tersebut akan merusak struktur yang ada di Minangkabau, anak dianggap bukan berasal dari keturunan minang, karena garis keturunan di Minangkabau berasal dari ibu (matrilineal).

Sebuah penelitian ilmiah yang dikutip oleh Prof. Dr. dr. Rusdi Lamsudin (Dekan Fakultas Kedokteran UII, Guru Besar Fak. Kedokteran UGM, Mantan Dokter Kepresidenan), menyatakan bahwa pernikahan antar etnis atau antar bangsa memiliki sisi positif dalam hal kebagusan fisik sang anak (karena DNA yang bertemu memiliki keanekaragaman) dan kecendrungan keturunan yang memiliki intelegensia tinggi.

Perempuan Minang dan Laki-laki Non Minang

Walaupun ada tapi kasus seperti ini jarang terjadi. Dari sisi adat minang sendiri ini sah-sah saja. Karena anak-anaknya nanti akan tetap mewarisi suku ibunya. So far, tidak ada masalah dengan hal ini.

Masalah seperti ini malah terjadi dalam hubungan saya dengan laki-laki Jawa. Orangtua saya yang notabene adalah orang Padang tidak ada masalah saya mau menikah dengan orang dari suku manapun. Bukan karena adat padang tidak memberatkan hubungan saya dengan laki-laki non minang, tapi orangtua saya lebih berpikir terbuka, mengizinkan anak-anaknya untuk memilih siapa saja asalkan seiman, bisa jadi imam yang baik, dan bertanggung jawab. Dan pesan Ibu saya, "dan kamu bertanggungjawab dengan pilihan kamu".

Tapi masalahnya malah di pihak laki-laki yang orang Jawa. Ibunya tidak sreg sama orang Padang. Entah karena alasan apa, saya juga ngga ngerti. Mungkin karena ada omongan buruk tentang orang Padang, bisa jadi. Memang kita ngga bisa nyamain semua orang dengan suku yang sama, tapi kita juga ngga bisa membatasi pikiran orang. Akhirnya, hubungan yang sudah berjalan sepuluh bulan itupun berakhir (jadi curcol). 

Sebenarnya memang menilai seseorang itu bukan dari sukunya, tapi dari pribadinya. Dan pribadipun, jika memang jelek masih bisa dirubah. jadi semuanya memang butuh proses. mengenal seseorang butuh waktu, tidak bisa hanya dengan beberapa kali bertemu. 

Beberapa kali teman saya sharing mengenai hal yang sama, ditolak oleh calon mertua, satu diantaranya karena orang Padang. Tapi akhirnya mereka menikah, karena calon suaminya berhasil meyakinkan keluarganya bahwa tidak semua orang Padang itu seperti yang dikatakan orang-orang. Bersyukurlah orang-orang yang bisa meyakinkan keluarganya dan memperjuangkan pilihannya.

Dan karena hal ini bukanlah hal yang bisa dipaksakan, kita tidak bisa mengatur pikiran orang, tidak bisa memaksa orang lain untuk menerima kita, sudah seharusnya diikhlaskan walaupun berat. Semoga ada hal baik dibalik kejadian ini.


See you on my next post :)





Friday, 6 February 2015

Allah, Aku Ingin Cerita

Allah, aku ingin cerita..
Kadang aku ingin sekali bertemu dengan-Mu. Menangis, memeluk, sampai aku tertidur.

Allah, bukankah hidup itu indah?
Seperti lukisan pemandangan yang biasa dilukiskan "aku kecil" dengan dua gunung, jalan raya, dan sawah dikiri kanannya. Damai seperti sungai dengan airnya yang mengalir.

Allah, ketika aku kecil, apakah aku sering menangis? Aku cengeng ya Allah? Seandainya ada videonya mungkin aku bisa malu menontonnya. Betapa cengengnya "aku kecil". Ah, tapi sepertinya tidak. "Aku kecil" seorang yang tidak cengeng. Aku kuat kan Allah? Aku tangguh. Aku mampu mengerjakan banyak hal yang dikerjakan anak laki-laki.

Allah, apa Engkau bosan mendengarkan ceritaku? Aku sering mengeluh ya Allah? Maaf ya Allah, aku terlalu berisik dengan mulutku ini.

Allah, Engkau pasti tau, aku tumbuh menjadi wanita yang kuat, mandiri, menyayangi orang lain, dan tidak gampang menyerah. Tapi mengapa kadang aku masih suka menangis ya Allah? Aku seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan oleh ibunya. Aku malu, Ya Allah. Apalagi Engkau melihatku dari sana. Ah, untung tidak ada orang lain yang melihatnya. Simpan ya Allah, ini rahasia kita.

Allah, aku ingin cerita lebih banyak lagi. Apa Engkau masih mau mendengarku Allah?

Allah, kadang aku juga suka cerita sama teman di India sana. Mereka baik sekali, mendengarkan aku yang kadang tidak punya semangat untuk menjalani hariku.  Memberiku semangat yang dikirimkan lewat email dan doa. Mereka seperti keluarga. Engkau pasti tau kan Allah, mereka orang-orang baik yang Engkau kirim saat aku lemah. Sama seperti ibuku. Wanita kuat yang Engkau tugaskan untuk melahirkan aku.

Allah, aku boleh mengeluh tidak? Ah, pasti tidak boleh. Mengeluh itu tidak baik kan Allah? Nanti orang-orang akan melihatku seperti wanita yang mudah patah semangat.

Allah, aku terlalu sering meminta kepada-Mu. Jangan bosan ya Allah, mungkin aku terlalu banyak permintaan. Tapi cukup kita yang tau ya Allah.

Allah, setiap hari aku berdoa, tapi doa yang sama. Aku seperti tidak punya doa lain ya Allah. Aku mengibaratkan berdoa itu seperti mengayuh sepeda ya Allah, suatu saat pasti akan sampai ke tujuannya. Aku mengayuh terus, terus, dan terus. Engkau bantu mendorongnya ya Allah. Terima kasih Allah.

Allah, Engkau melihatku kan Allah? Apa Engkau lagi tersenyum Allah? Pasti lucu melihatku saat ini mengetik surat untuk-Mu dengan mata bengkak, hidung merah dan ingus yang keluar. Hehhe... Jorok ya Allah.

Allah, terima kasih ya, sudah mendengarkan ceritaku. Apa Engkau bisa membalas suratku Allah? Kalau tidak juga tidak apa-apa Allah. Engkau memerhatikan aku saja aku sudah bersyukur ya Allah.
Allah, aku boleh meminta lagi? Aku ingin ibu, ayah, dan nenekku tetap sehat, Allah. Slalu beri mereka kesehatan ya Allah.

Allah, aku melanjutkan tidurku dulu ya. Lindungi aku dalam tidurku. Berkahi aku dengan semua hal baik.

Terima kasih, Allah.


04:05 06/02/2015

Monday, 2 February 2015

Rasional dan Irrasional

Dulu sangat familiar dengan istilah rasional dan irrasional. Ya, karena masa sekolah 12 tahun pastinya ada mata pelajaran matematika. Dan as you know, saya kuliah di Jurusan Matematika. So, istilah ini sangat-sangat familiar. Tapi itu berhubungan dengan bilangan, pastinya.

Dan sekarang, saya mau bahas sedikit mengenai hal irrasional dalam kehidupan kita. Sebenernya mungkin banyak yah hal irrasional/tidak rasional yang kita temui dalam kehidupan sehari-hari.

Kalau dalam matematika bilangan irrasional adalah bilangan riil yang tidak bisa dibagi, dalam kehidupan, hal irrasional adalah hal nyata yang tidak logis. Nyata adanya, tapi tidak logis. Ya, begitulah.

Ada dua hal yang ingin saya bahas disini. Pertama mengenai pekerjaan dan jilbab, yang ke dua mengenai pasangan hidup dan suku.

Pekerjaan dan Jilbab

Dulu ketika baru lulus kuliah dan masih sebagai job seeker, saya interview di sebuah Lembaga Pendidikan Bahasa Inggris. Posisi yang saya lamar adalah guru Bahasa Inggris. Background saya yang dari jurusan Matematika tidak dipersoalkan, asal saya lulus tes yang diadakan lembaga tsb. Oke, saya mengikuti tes, dan hasilnya pun keluar. Selanjutnya saya interview dengan user, yang saya tidak tau apa jabatannya disana. Saya diberitahu bahwa saya qualified dan bisa mengajar disana. Tapi... Ada "tapi"-nya yang artinya syarat dan ketentuan berlaku.

"Pengajar disini tidak ada yang memakai jilbab, karena memang tidak diperbolehkan"

What???

"Ada satu atau dua pengajar yang memakai jilbab, tetapi begitu sampai disini jilbabnya dilepas dan mereka masuk kelas tidak dengan jilbabnya. Ketika pulang mereka bisa pakai lagi", interviewer melanjutkan.

Ketika iman dihadapkan dengan uang dan tuntutan kebutuhan.

Tidak ada orang yang tidak butuh uang dan bekerja adalah cara untuk mendapatkan uang. Dalam kondisi terdesak, sebagai perantau di Jakarta, tidak bekerja, dan ada tawaran pekerjaan yang datang sungguh hal yang ditunggu-tunggu. Tapi apakah harus dengan menjual prinsip dan keimanan?

Saya berpikir, ini tidak rasional. Dalam pekerjaan yang dinilai seharusnya adalah kinerja. Dalam mencari tenaga kerja yang dinilai adalah kualitas dan personality seseorang. Apakah orang berjilbab artinya pekerjaannya buruk? Apakah orang berjilbab tidak bisa bekerja dengan bagus? Apakah jilbab akan memengaruhi kinerja seseorang? TIDAK. Semua kembali kepada pribadinya. Kembali kepada kemampuan seseorang. Jadi sangat tidak rasional ketika jilbab dijadikan alasan untuk tidak menerima seseorang untuk bekerja.

Kejadian kedua yang juga pernah saya alami saat interview di Pharos, salah satu perusahaan yang memiliki banyak store/apotek di Indonesia. Hal yang sama, saya disuruh melepas jilbab jika ingin diterima bekerja disana. Lagi-lagi hal yang tidak rasional. Kualitas seseorang dalam bekerja tidak bisa dilihat dari apakah dia memakai jilbab atau tidak.

Kejadian ketiga, saudara saya interview di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang jasa transportasi di Jakarta. Posisi yang dilamar adalah staf administrasi, yang sudah pasti tidak berhubungan dengan client. Bukan frontliner, bukan sekretaris, bukan GA staff. Tapi HRD dan GA Manager tidak sreg karena saudara saya memakai jilbab. Bukannya disana tidak boleh memakai jilbab, tapi malah karena disana sudah banyak yang memakai jilbab. Maksudnya? Saya juga nggak ngerti.

Mereka mencari staf yang tidak berjilbab karena disana sudah banyak yang memakai jilbab. Tapi apakah staf admin yang memakai jilbab akan memengaruhi performance perusahaan? Apakah menerima staf admin yang berjilbab mempertaruhkan reputasi perusahaan? Toh kerjanya juga tidak berhadapan langsung dengan tamu atau client perusahaan. Tidak rasional.

Jilbab tidak akan memengaruhi kinerja seseorang. Semua kembali kepada kemampuan diri dan pola pikir. Itulah yang seharusnya digali oleh interviewer saat melakukan interview.

Kecuali ada maksud dan tujuan lain dengan tidak memperbolehkan staf berjilbab. Pikiran negatif yang tidak seharusnya saya share.


Pasangan Hidup dan Suku

Ini hal ke dua yang mau saya bahas. Masih banyak orang yang melihat suku dan menghubungkannya dengan sifat tertentu. Seperti laki-laki Sunda males, maunya ongkang-ongkang kaki dan manfaatin istri yang kerja. Atau orang Padang yang katanya pelit, orang Batak  dan Jawa Timur yang katanya kasar. Banyak penilaian yang kadang tidak objektif dan tidak masuk akal.

Sedikit cerita, beberapa waktu yang lalu saya punya hubungan dengan orang Jawa Timur. Orang tuanya asli jawa Timur. Awalnya saya melihat mamanya bersikap biasa terhadap saya ketika datang dan bahkan pernah menginap di rumahnya. Tetapi setelah itu pacar saya bilang mamanya nggak sreg sama orang Padang. Tapi tidak dijelaskan apa yang tidak disukai. Intinya karena saya orang Padang. 

Menurut saya ini nggak masuk akal, nggak rasional. Hanya karena alasan kesukuan. Menilai seseorang itu seharusnya dari kepribadiannya, dari sikapnya. Menilai seseorang tidak cukup juga hanya dengan melihatnya. Kadang butuh waktu lama untuk bisa tahu orang lain. Mungkin dari seringnya ngobrol, atau juga dari cerita seseorang yang mengenalnya. Nggak cukup waktu sehari dua hari.

In my opinion, it's not rational.

Saya sendiri, perempuan Padang tidak menjamin orang Padang itu tidak "pelit" seperti yang beredar di masyarakat kita. Tetapi juga tidak membenarkan penilaian seperti itu, karena semuanya kembali pada pribadi masing-masing.

Seperti halnya lelaki Sunda yang katanya males, banyak juga saya temui lelaki Sunda yang rajin dan pekerja keras. Walaupun ada yang memang seperti itu, tapi tidak semua, tidak bisa dipukul rata. Orang bilang perempuan Sunda suka godain suami orang, suka kawin cerai, pastinya juga tidak semua seperti itu. Tetap kembali kepada pribadi orangnya.

Pola pikir tiap orang memang berbeda-beda. Balik lagi ke tingkat pendidikan dan lingkungan/pergaulan. Seperti orang bilang, bergaul dengan tukang parfum jadi ikutan wangi. Perumpamaannya seperti itu. Orang lulusan SMP bergaul dengan sarjana bahkan mungkin profesor, bisa jadi pola pikirnya berubah. Sebaliknya, seorang sarjana yang biasa bergaul dengan orang-orang yang berpikiran sempit, pola pikirnya juga akan berubah sempit. Sedikit banyaknya mempengaruhi.
 
Mulailah berpikir secara rasional, dengan mempertimbangkan hal yang masuk akal, bukan karna stereotype dll.

Ini hanya ulasan saya saja, mungkin diluar sana juga ada yang berpendapat beda dengan saya, wajar.
Semua kembali ke pola pikir masing-masing.

See u on my next post.

Thursday, 29 January 2015

Pocky, Halal atau Haram?

Berkantor di gedung yang sama dengan Carrefour bikin pengen belanja terus. Hehhe..
Tapi bukan ini point yang ingin disampaikan disini.
 
Jam istirahat siang...
Tujuan utama adalah beli cemilan buat di kantor. Setelah keliling di rak-rak makanan dan mengisi keranjang belanjaan dengan beberapa cemilan, sampailah pada rak makanan luar.
Pocky, sebelumnya pernah nyoba ini, tapi lupa di meja siapa. Hehhe..
 
 
Lagi diskon, yang sebelumnya 7000an jadi 6000an. Godaan. Akhirnya masukin dua kotak Pocky ke keranjang.
Lagi ngantri di kasir iseng meratiin kotaknya. Pocky ini diproduksi di Thailand, di bawah pengawasan Jepang.
Ada fotonya JKT48, tapi label halalnya mana?
Waduh, jadi penasaran ini. Sampai di giliran bayar, saya nanya sama kasirnya, "Ini ga ada label halalnya ya, Mba?"
Kasirnya langsung cek juga di kemasan Pocky-nya. Tapi di belakang saya ada customer yang ngantri, jadi ngga enak, akhirnya saya bayar aja.
Balik ke kantor masih dengan rasa penasaran, akhirnya googling.
 
Taraaa...
Bermunculanlah berbagai macam blog yang ngebahas ini.
 
GLICO: Animal shortening (lard,etc) is contained in all products
 
GLICO: Animal shortening (lard,etc) is contained in all products
Artinya, semua product Glico mengandung animal shortening. Animal shortening ini adalah semacam butter/margarine yang terbuat dari lemak hewani. Ya, lemak hewan. Memang dalam pembuatannya bisa saja diambil dari hewan lain, bukan babi. Tapi kemungkinan itu pasti ada. Karena negara yang memproduksi Pocky ini adalah Thailand yang kita tahu banyak makanan non-halal yang mengandung unsur babi dan penduduknya secara umum mengkonsumsi daging babi. Dan dari sumber informasi yang saya googling, sudah diketahui banyak orang bahwa minyak babi jauh lebih murah dibanding produk hewani lainnya. Artinya, bisa saja shortening yang dimaksud disini adalah minyak/lemak babi.
 
In my opinion, bagaimanapun, lebih baik menghindari dari pada mengkonsumsi makanan yang belum jelas hukumnya halal atau haram. Mungkin akan lebih bijak untuk tidak mengkonsumsi ini sampai Glico yang dijual di Indonesia mencantumkan label halal dari MUI pada kemasannya.

Semoga Allah mengampuni kekhilafan ini (baca: makan Pocky sebelumnya)
Dan yang saya beli sekarang langsung dikasi ke temen yang non-muslim, emang rezekinya dia kali yah.. hahha

Semoga info ini bermanfaat buat yang meragukan Pocky.

See you on my next post.

Wednesday, 28 January 2015

Jelajah Malaysia

Jelajah Malaysia sepertinya terlalu lebay untuk catatan perjalanan yang sedikit ini. Tapi gak pa-pa lah untuk menggambarkan lima hari di Malaysia.

Rabu malam yang hectic banget. Keluar kantor jam 8.30 malam, naik angkot ke Mall Ambassador dan akhirnya nyampe juga di kamar kecil kost wanita baik-baik a.k.a KWB. Packing yang ribet. Dibantu sama Mba Ira, tetangga depan kamar, akhirnya kelar jam 22.30 WIB. Dan... go ke kosan Rika, travelmate kali ini. Sampe kosan Rika udah jam 23.30 WIB. Luar biasa. Harus tidur walaupun cuma dua jam. Jam 02.00 taxi udah nunggu di depan. 02.30 cuss ke bandara.

03.25 check in. Take off nya baru jam 5.25 WIB. Melelahkan. Bandara Soekarno Hatta - Changi Airport - LCCT. Dari LCCT harus naik bus lagi ke KL Sentral. Tiket bus LCCT - KL Sentral ini berkisar 8 RM - 10 RM. Perjalanan LCCT - KL Sentral memakan waktu sekitar 1,5 jam. Dari KL Sentral ke Vista Komanwel, apartemen temen tempat kami bakal menginap, kami naik budget taxi. Alasannya sih simple, takut dikenakan argo kuda kalo naik taxi sembarangan. Tarif taxi dari KL Sentral ke Vista Komanwel Bukit Jalil ini 23 RM, sekitar Rp 85.000. Lumayan, karena ternyata cukup jauh juga. Sampai di Vista Komanwel ternyata jam 15.30 WIB.

Start from here...

1st Day
Perjalanan pertama dimulai. KLCC di sore yang berkabut karena kebakaran hutan. So, foto-foto dengan background Twin Tower tidak terlalu jelas. Hujan juga gak mau kalah. Akhirnya orang-orang berlarian ke mall. Menunggu hujan reda, saya dan travelmate makan dulu. Go to foodcourt. Makanan yang sama seperti foodcourt di Jakarta. Setelah hujan reda, photo session dilanjutin lagi. Lumayan walaupun cuaca gak jelas. Perjalanan hari pertama dicukupkan dengan belanja sepatu di Vincci Suria KLCC.

Feel free to pose

2nd Day


Tiket dari Berjaya Hotel ke Colmar Tropicale
Random banget. Tujuan utama adalah Colmar Tropicale. Dari Vista Komanwel, naik RapidKL dari Stasiun Sri Petaling ke  Stasiun Hang Tuah, lanjut dengan monorel ke Stasiun Imbi. Harga tiket Sri Petaling - Imbi yaitu 3.1 RM/org. Dari Stasiun Imbi, jalan menuju Berjaya Times Square, beli tiket untuk Berjaya Hotel - Colmar Tropicale. Tiket ini dijual di The Chateau, Berjaya Times Square lantai 8. Harga tiket ini 55 RM/org, termasuk tiket masuk Colmar Tropicale, bus dari French Village ke Japanese Tea House dan Botanical Garden. Lama perjalanan sekitar 1,5 jam.
 
11.30 Colmar Tropicale - French Village
Di sini terdapat bangunan seperti bangunan di Eropa. Dengan gaya khas bangunannya yang tinggi, bener-bener keren. Perkampungan Eropa yang memang menarik untuk didatangi. Setelah ngobrol dengan receptionist hotel disini, ternyata bagian atas semua bangunan disini adalah kamar - kamar hotel. Di bawah digunakan untuk restoran dan toko souvenir.

French Village - Colmar Tropicale
12.15 Naik bus menuju Japanese Tea House. Suasana rumah Jepang yang sederhana. Disini disewakan kimono dan yukata seharga 20 RM untuk 10 menit. Gak banyak yang bisa dilihat disini. Tapi suasananya cukup nyaman, sejuk karena berada di dataran tinggi. Disini juga terdapat toko yang menjual souvenir.

Japanese Village
13.15 Kembali ke Colmar.
Keliling lagi, foto - foto sebentar, dan jam 15.00 siap untuk kembali ke Berjaya Times Square.

Tujuan berikutnya yaitu Dataran Merdeka. Harga tiket monorel dari Imbi ke Masjid Jamek yaitu 2.4 RM. Stasiun Imbi - transit Stasiun Hang Tuah - Stasiun Masjid Jamek. Dari stasiun masih jalan sedikit ke Dataran Merdeka. Disini terdapat taman dan pajangan foto Perdana Menteri Malaysia dari yang pertama sampai dengan saat ini. Disini juga terdapat Galeri Kuala Lumpur yang isinya tentang sejarah kemerdekaan dan kehidupan lingkungan Kuala Lumpur. Cukup menarik.

Salas satu sisi dalam Galeri Kuala Lumpur


Di depan Kuala Lumpur City Gallery
Masih belum berhenti sampai di sini. Lanjut menuju Bukit Bintang. Yang pasti cari makan dulu. Laper sodara-sodara. Akhirnya foodcourt lagi. Makan Nasi Lemak khas Malaysia. Udah cukup malam untuk jalan-jalan. Dari Bukit Bintang kami berjalan ke Berjaya Times Square. And then kembali pulang ke Vista Komonwel
3rd Day
Sabtu, hari ke-tiga. Ready to Malacca. Malacca sekitar 3 jam perjalanan dari Petaling Jaya, tepatnya tempat kami berada, Vista Komonwel. Perjalanan kali ini tidak menggunakan angkutan umum alias dianter Anita. Tiga jam di mobil sambil ngeliatin jalanan. Jauh beda dengan negara kita. Tata kota dan jalan raya Malaysia sudah sangat rapi. Jalanan ngga macet, sistem autopay untuk bayar parkir, ngga ada yang jualan gorengan gerobak di pinggir jalan, bener-bener rapi.
Di Melaka (bahasa Malaysia untuk Malacca/Malaka) terdapat museum sejarah. Museum Samudera yang menyimpan berbagai benda sejarah Malaka ini adalah sebuah kapal dagang yang dulu digunakan untuk berlayar. Malaka dulunya adalah kota perdagangan. Tempat berkumpulnya orang dari berbagai negara untuk melakukan transaksi. Barang-barang yang diperjualbelikan yaitu bahan pokok atau hasil bumi seperti rempah-rempah, beras, dan lain-lain. Museum ini cukup menarik untuk dikunjungi.
Malacca/Malaka/Melaka
Selain museum, Malaka punya menara yang tinggi, yaitu Menara Taming Sari. Dari ketinggian menara ini kita bisa melihat keseluruhan Malaka. Fantastis. Melihat lampu-lampu Malaka dari ketinggian 80 meter.

Malaka dari ketinggian Menara Taming Sari

Di Malaka banyak dijumpai bangunan tua bersejarah. Tak jauh dari situ juga ada Taman Bunga Merdeka Bandaraya Melaka. Cukup ramai, rata-rata wisatawan dari Asia.
Satu lagi yang recommended di Malaka,  bukan tempat wisata, melainkan restoran. Namanya Asam Pedas Claypot. Lokasinya di Jl. Laksamana 5 No. 86 Taman Kota Laksamana Melaka. Asam Pedas Claypot ini cukup terkenal di Melaka. Ada bermacam-macam ikan yang jadi menu asam pedas disini. rasanya juga hmmm... pedesss. Bikin nafsu makan meningkat. Tapi hati-hati, bisa bikin perut mules.

Asam Pedas Claypot

4th Day
Tujuan hari ini adalah Batu Caves. Batu Caves ini adalah bukit batu kapur yang mempunyai gua dan kuil gua, berada di daerah Gombak, 13 KM utara Kuala Lumpur. Akses ke Batu Caves ini cukup gampang. Dari station Titiwangsa tinggal jalan sampe ke jalan utama, lalu naik bus yang ke Batu Caves. Kalau ragu bias Tanya warga sekitar. Tiket kesana cuma 2RM dengan lama perjalanan sekitar 30 menit, nggak jauh dari KL (hasil browsing sebelum berangkat). Karena saya dan travelmate diantar tuan rumah, jadi kami nggak naik bus dan nggak terlalu merhatiin jalan. Hehhee...
Batu Caves ramai dipadati pengunjung. Mungkin juga karena itu hari Minggu, jadi banyak yang berlibur kesana. Burung-burung merpati beterbangan di area depan patung besar Sri Subramaniar Swamy Devasthanam.
Naik tangga sekitar 270 anak tangga smenuju goa diatasnya sungguh bikin ngos-ngosan. Harti-hati, disini banyak monyet yang bisa dibilang iseng. Kreatif banget ngambilin makanan pengunjung, sampe-sampe minuman di tanganpun direbut dan diminum. Di bagian atas ini terdapat Goa yang di dalamnya ada patung-patung, dupa, dan tempat kuil. Kuil ini merupakan kuil Hindu terpopuler di luar India.

Pose di Batu Caves
Perjalanan berlanjut ke Menara Kuala Lumpur (KL Tower) yang merupakan landmark Ibukota Malaysia. KL Tower menjadi ikon terkenal Bandaraya Malaysia dengan tinggi 421 meter dan merupakan menara telekomunikasi dengan antenna di atasnya. Menara ini digunakan untuk memancarkan gelombang beberapa stasiun televisi dan radio juga digunakan untuk mengamati jatuhnya hari- hari penting dalam Agama Islam.Menara Kuala Lumpur terlihat lebih tinggi daripada Menara Kembar Petronas karena letaknya yang diatas Bukit Nanas. Pada bagian atas menara terdapat restoran berputar yang menyajikan pemandangan kota Kuala Lumpur. Menara Kuala Lumpur terbuka bagi umum, pengunjung bisa menikmati pemandangan di observation deck dengan teropong yang tersedia. Selain restoran berputar, di sekeliling Menara Kuala Lumpur merupakan hutan yang sejuk dan asri untuk dinikmati pengunjung.Pengunjung bisa berjalan kaki ataupun melakukan kegiatan bertualang di sekitar Bukit Nanas ini.
The Last Day
Hari terakhir di Malaysia. Take off sore dan masih sempet-sempetnya mampir dulu ke Putrajaya. Mumpung masih ada waktu. Lagi-lagi dianter Anita. Sungguh merepotkan. Hehhe...
Putrajaya menjadi Pusat Administrasi Pemerintahan Malaysia menggantikan lokasi yang lama di Kuala Lumpur. Bangunan kantor perdana menteri berada di tengah kompleks memiliki 3 kubah berwarna hijau, sekilas orang mengira seperti bangunan masjid, tapi ternyata bukan. Bangunan masjid justru berdiri kokoh di sebelah kiri kantor perdana menteri, yakni Masjid Putra.
Putrajaya - Malaysia
Jika di Indonesia, kemegahan masjid putra ini hampir menyerupai Masjid Kubah Emas, Depok, Jawa Barat atau Masjid At-Tien Taman Mini atau Istiqlal. Bedanya, Akses jalan menuju Masjid Putra benar-benar luas dan tertata rapi, berbeda jika kita memasuki kawasan Masjid Kubah Emas yang sempit jalannya.
Masjid putra bernuansa warna merah bata perpaduan merah jambu atau pink. Letaknya berada di pinggir danau, sehingga terlihat seperti mengapung jika dari kejauhan. Masjid ini cukup elok dan cantik, dipadu menara yang tingginya 116 meter.
Saat masuk ke dalam masjid, pengunjung wanita diminta memakai jilbab atau mukena. Bagi wanita warga asing, pengelola masjid menyediakan pakaian khusus berkerudung. Pengunjung wisatawan juga tak bisa leluasa berada di dalam masjid hingga sampai ke mimbar khotib, tetapi ada tempat khusus yang dibatasi pita di pintu masuk masjid. Di sini pengunjung boleh mengambil gambar.


Di Putrajaya kami menyempatkan makan siang yang menurut saya lumayan mahal. Nasi biryani yang saya makan ini kalau dirupiahkan lebih dari seratus ribu.


Nasi Briyani
Akhirnya.... menuju bandara. Dan kembali ke Jakarta.
Sampai jumpa di tulisan selanjutnya.